Sabtu, 14 Juni 2014

Cerpen yang Keduaaa...

AKU IKHLAS
oleh Selvia Mariska Syahputri

Pagi ini aku masih terjaga dikeramaian kota, ditemani dengan ransel yang selalu setia denganku. Tugasku menjadi seorang yang super sibuk setiap harinya dengan pekerjaan yang tidaklah mudah untuk dijalani. Menjadi seorang pelajar sekolah menengah atas yang dikerumuni oleh berbagai tugas dari sang guru. Orang-orang biasa memanggilku Ratih. Sekarang aku duduk di kelas dua. Banyak orang berkata bahwa aku adalah seorang anak yang rajin, cerdas, dan optimis. Aku bukanlah golongan anak konglomerat yang bisa berpergian dan memiliki semuanya. Aku hanya gadis biasa yang hidup dengan kebahagiaan. Ayahku seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta ternama, dan ibuku merupakan seorang guru di sekolah menengah pertama. Aku memiliki seorang kakak laki-laki yang baik hati dan dia selalu mendengarkan keluh kesah dan omelanku, sebut saja dia Dika. Aku mempunyai seorang sahabat bernama Della. Dia adalah gadis terbaik yang pernah kukenal selama ini. Sikapnya yang polos dan selalu bersemangat membuat aku hidup di sekolah ini.
            Seperti biasanya, sehabis sarapan dan berpamitan dengan ayah dan ibu, kak Dika selalu mengantarku pergi ke sekolah. Sampai di sekolah, aku bersalaman dengan kak Dika dan segera masuk ke dalam lingkungan sekolah. Karna kelasku yang berada di lantai dua, setiap kali berpamitan dengan kak Dika, dapat kulihat dari arah jendela kelasku sudah ada yang memperhatikan kami, ya itu Della. Sejak awal pertemuan kami di SMA dan semenjak pertama kali Della kerumahku dan bertemu dengan kak Dika, dia sudah menyimpan rasa khusus namun tak kunjung diungkapkan. Aku pernah menceritakannya dengan kak Dika, namun reaksinya hanya biasa saja. Meskipun usia kami berbeda tiga tahun, tapi kak Dika sangat-sangat memperhatikanku. Aku sangat paham sikap kakakku yang tidak terlalu memperdulikan apa itu hubungan spesial antara laki-laki dan perempuan. Della juga sepertinya tidak ingin tahu bagaimana respon kak Dika terhadapnya. Yang dia ingin lakukan hanya mengagumi kak Dika yang tampan dan juga pintar itu. Setelah kak Dika mengantarku, dia langsung pergi ke kampusnya.
*
            Saat tiba di kelas, aku menyapa semua yang berada di kelas termasuk Della. Semuanya terlihat sedang sibuk mengerjakan pr fisika, kecuali aku, Della, dan beberapa teman-temanku yang memang pintar dalam pelajaran fisika. Sampai di bangkuku, Della dengan raut muka bahagia langsung bertanya padaku, aku tahu apa yang ingin dibicarakannya. Apalagi kalau bukan tentang kak Dika, setiap pagi dia selalu bertanya tentang kak Dika. Dan kali ini pun pertanyaan yang ia lontarkan masih tentang kak Dika.
Aku tahu persis Della, aku jawab semua pertanyaannya sebisaku. Dengan bahagianya, dia selalu tertawa setiap kali aku bercerita tentang kelucuan dan kekompakan antara aku dan kak Dika.
            Saat istirahat tiba, aku dan Della pergi ke kantin bersama. Aku bukanlah orang yang tertutup yang hanya berteman dengan satu orang saja. Aku termasuk orang yang mudah bergaul dan aku juga punya banyak teman. Hanya saja, bagiku Dellalah yang paling bisa mengertiku sebagai seorang sahabat. Namun, dalam hidup ini tidak semua orang suka terhadap diri kita, begitu juga dengan kami. Ada seorang perempuan dari kelas lain yang tidak menyukaiku. Dia cantik, pintar dan kaya. Namanya Anggun. Dia membenciku karna saat tes pemilihan peserta olimpiade matematika, aku menjadi perwakilan sekolah menuju nasional. Sedangkan Anggun yang satu club matematika denganku merasa bahwa dialah yang pantas. Walaupun begitu, aku tetap mencoba untuk menyapanya. Tapi, tak pernah ada sambutan baik darinya. Aku tak dapat berbuat apapun, hasil tes merujuk padaku dan aku juga ingin mempunyai kesempatan untuk membanggakan orang tuaku. Bagiku, hidupku adalah jalanku. Jika orang merasa tidak senang denganku dan menganggapku remeh, tak masalah bagiku, aku hanya hidup untuk membanggakan, mencintai dan menyayangi orang-orang.
            Di kantin, aku dan Della sibuk membicarakan olimpiade yang akan kami ikuti satu minggu lagi. Della ikut olimpiade biologi karna dia sangat suka dengan pelajaran biologi. Dari kejauhan terlihat Anggun mengamati kami berdua. Della yang tidak terlalu suka dengan sikap Anggun yang agak sombong pun langsng menolehnya dan menatapnya dengan sinis. Spontan saja Anggun langsung membuang muka. Seketika aku merasa geli dengan tindakan Della, tapi juga merasa kasihan pada Anggun. Tiba-tiba bel berbunyi, aku pun menarik tangan Della dan kami sama-sama berlari menuju kelas.
**
            Bel tanda pelajaran tlah usai pun berbunyi, seluruh siswa pulang kerumah mereka untuk mengembalikan energi yang terkuras hari ini dan siap melanjutkan tugas mereka di sekolah esok hari. Begitu juga dengan diriku, aku langsung pulang kerumah dengan penuh rasa lelah tapi seperti biasanya aku tetap bersemangat. Karna diriku yang tidak diperbolehkan membawa kendaraan sendiri oleh orang tuaku, maka dari itu aku selalu diantar pergi menuntut ilmu oleh kak Dika. Biasanya setelah pulang sekolah Della memberi tumpangan jika dia tidak mengikuti bimbel diluar. Jika tidak ada Della, maka aku akan naik angkutan umum untuk sampai kerumahku.
            Sampainya dirumah, aku selalu mengucapkan salam ketika masuk kedalam rumah. Aku melepas sepatu dan meletakkan tas di meja belajar. Tak lupa, ku ganti pakaian sekolahku agar dapat dicuci oleh ibu. Karna sekolahku merupakan sekolah favorit, maka kami mengakhiri pelajaran lebih lama dari sekolah-sekolah lainnya. Tiba dirumah pun sudah pukul empat sore. Yang pertama kali kuhampiri ketika pulang ialah ibu. Aku selalu bercerita apapun yang terjadi dengan diriku hari ini, tak terkecuali Anggun. Setelah bercerita, ibu akan memintaku untuk menyantap makanan yang sudah ia masak. Lelah dan letih membuatku bersemangat saat dipinta menyantap makanan yang sudah pasti enak itu. Setelah selesai makan, aku akan sholat, bersyukur untuk segala nikmat hari ini, meminta agar dipermudahkan menuju impianku, dan mengadu pada yang Maha Kuasa tentang keadaan diri ini yang sungguh lemah dan tidak berdaya.
            Malam harinya sehabis sholat dan berdo’a, aku membuka buku dan membacanya. Aku pikir aku bukanlah orang yang rajin berlama-lama untuk membaca dan mengulang kembali pelajaran hari itu, tapi pada dasarnya aku hanya sekedar membaca dan mengulangi pelajaran yang menurutku sulit saja. Tak jarang pula aku juga terbiasa tidur larut malam hingga aku mengantuk disekolah. Tapi, semua itu bisa kuatasi. Di sela-sela belajar, tiba-tiba rasa sakit menghampiriku. Kepalaku terasa pusing dan berat. Badanku terasa lemas dan kaku sehingga aku tak dapat bergerak. Aku tidak dapat memikirkan apapun. Ya, rasa sakit yang sejak dua bulan lalu kurasakan. Aku juga tak tahu persis bagaimana sakit ini datang menyelinap di tubuhku, terutama di kepalaku. Aku berusaha bangkit dan menuju kamar ayah dan ibu. Pada ketukan pertama di pintu kamar, pusing ini semakin menjadi-jadi. Aku harus kuat pintaku dalam hati, namun  mata ini sudah tak dapat melihat secara jelas lagi. Aku tak dapat merasakan apapun. Akhirnya, aku pun terjatuh di depan pintu kamar orang tuaku.
***
            Ku buka perlahan mataku, kulihat kondisi disekitarku. Ini bukanlah kamarku ataupun sedikit serpihan dari rumahku. Kudapati diriku terbaring lemas di rumah sakit. Aku tak mengerti apa yang terjadi pada diriku ini, aku pun tak tahu bagaimana aku sudah bisa sampai disini. Tiba-tiba saja bayangan diriku muncul, terakhir kali yang kuingat ialah saat aku pingsan di depan pintu kamar orang tuaku. Aku mencoba bangun tapi tak bisa. Walaupun begitu aku masih bisa melihat disekitarku, ada ayah dan ibu yang tertidur pulas tapi tak ada kakak kesayanganku. Tak lama aku melihat mereka, kak Dika masuk dengan suara samar-sama pintu terbuka dan membawa sebuah map yang tidak kuketahui isinya. Mengetahui hal itu, aku langsung pura-pura tertidur kembali. Aku hanya bisa mendngar suara mereka, kak Dika mencoba membangunkan ayah dan ibu. Mereka pun terbangun, dan tanpa basa-basi kak Dika langsung menceritakan semua hal yang terjadi padaku sedangkan aku hanya dapat mendengar dalam diam.
“Ratih sedikit terganggu di bagian sistem saraf di kepalanya. Mungkin juga efek dari pola tidur yang tidak teratur.” jelas kak Dika.
“masyaAllah. Jadi apa yang kita harus lakukan dengan Ratih?” pinta ibu.
“kata dokter, dia sebaiknya segera dioperasi karna penyakit ini sudah lama ia derita tapi gejalanya baru terasa sejak dua bulan yang lalu. Dan ternyata Ratih juga sakit usus buntu. Kita tak pernah menyangkanya selama ini.” sahut kak Dika.
“tidak apa-apa Dika, katakan dengan dokter lakukan apapun agar Ratih bisa selamat.” Ayah pun ikut bicara.
“Ratiihh.. ibu tidak menyangka akan jadi seperti ini.” menggerutu sambil menangis.
            Mendengar semua obrolan mereka membuatku sesak tapi apa daya. Aku tak bisa berbuat apapun. Aku mungkin hanya bisa pasrah. Satu kesempatan yang sangat disayangkan yaitu olimpiade yang akan aku ikuti nanti. Kesempatan yang tidak datang dua kali karna ketika aku duduk di kelas satu, aku belum bisa ikut olimpiade karan materi yang tidak bisa kukuasai secara keseluruhan.
Lima hari lagi olimpiade akan dilaksanakan sedangkan operasiku berlangsung besok. Apakah aku akan pulih dalam tiga hari? Kapan aku bisa pulang dan belajar untuk persiapan olimpiadeku? Apakah memang tidak ada kesempatan bagiku untuk mengikuti oimpiade yang sudah kutunggu-tunggu? Jika bukan aku, lalu siapa yang akan mewakili sekolah? Bagaimana dengan nasibku? Sejuta pertanyaan muncul seketika. Kali ini aku benar-benar merasa perih dan sakit. Air mata ini tak sengaja membanjiri pipiku. Tapi kali ini aku benar-benar pasrah. Aku sudah berusaha keras untuk olimpiade ini, jika bukan untukku, aku ikhlas. Sekarang aku hanya bisa pasrah dengan keadaan.
**** 
            Setelah wali kelas ku mengetahui keadaanku, beberapa hari setelah operasi berlangsung, sebagian murid dari kelasku datang menjengukku. Aku sangat senang mereka datang untukku. Tapi, aku juga merasa sedih karna besok adalah olimpiade tingkat nasional yang akan aku ikuti. Di tengah keramaian, Della datang mendekat dan berbincang sedikit mengenai olimpiade. Della menceritakan semua kejadian lucu yang terjadi di sekolah selama aku tak masuk. Alhasil, aku tertawa bahagia. Namun, aku pun tahu ia sampai pada topik inti dari pembicaraan kami. Dia bercerita tentang olimpiade. Dia berkata bahwa aku tak bisa mengikuti olimpiade karna kondisiku yang tak memungkinkan. Dan oleh karna itu juga, posisiku digantikan oleh Anggun. Mendengar semua hal itu aku merasa sedih namun disisi lain sekali lagi aku hanya bisa pasrah.
            Tak lama kunjungan mereka, mereka pun memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing. Selang beberapa jam, tiba-tiba datang seorang temanku yang menjengukku. Dia sendiria, membawa sebuah bingkisan dan kartu ucapan. Dia adalah Anggun. Awalnya aku kaget Anggun menjengukku tapi kupikir mungkin memang ada secercah kasih sayang dihatinya. Dia menceritakan semua yang terjadi di club matematika sampai akhirnya aku bisa digantikan olehnya. Sebenarnya sudah sejak lama dia tidak menyukaiku namun setelah seleksi olimpiade, dia sadar dan ingin meminta maaf padaku. Tapi yang terjadi adalah aku mengira dia melihatiku karna tak senang denganku, dugaan itu salah. Dia mencoba untuk meminta maaf namun tak bisa. Disaat inilah baginya untuk meminta maaf padaku. Aku pun memaafkan dirinya jauh sebelum dia ingin meminta maaf. Walaupun aku tak bisa mengikuti olimpiade, tapi aku meminta padanya untuk membawa nama baik sekolah menang di tingkat nasional ini. Dia pun berjanji akan berusaha sekuat tenaga agar bisa mewujudkan itu. Setelah berbincang-bincang cukup lama, Anggun pun pamit pulang.
Setelah keadaanku benar-benar pulih, aku sudah dianjurkan untuk pulang oleh dokter yang mengawasiku. Tiga hari cukup bagiku untuk mengoptimalkan energiku dirumah. Keesokan harinya aku harus pergi ke sekolah. Aku tak mau terus berada dirumah dan bermalas-malasan. Aku rindu suasana sekolah. Aku rindu suasana kelasku. Aku rindu sahabatku.
*****
            Aku pun masuk ke sekolah, suasananya tidak berbeda. Aku sangat senang bisa kembali ke sekolah lagi. Meskipun begitu, aku tak bisa pergi ke kantin karna kondisiku yang tidak memungkinkan untuk berjalan terlalu lama. Della lah yang membantuku selama aku masih seperti ini. Dia membelikan semua makanan titipanku. Dia memang sahabat yang baik. Selain itu, terlintas dibenakku mengenai olimpiade. Namun, cpat-cepat aku hapus ingatan itu.
            Dua minggu kemudian, hasil olimpiade pun diumumkan. Pada waktu upacara bendera, nama Anggun disebut dan dipinta untuk maju kedepan karna berhasil menjadi juara dalam olimpiade matematika. Aku sangat senang sekaligus bangga walaupun bukan aku yang menjadi perwakilan. Setelah kepala sekolah memberi ucapan selamat kepada Anggun, dia kembali ke barisan dan tiba-tiba menghampiriku. Dia meminta maaf padaku karna sekali lagi menggantikan posisiku. Aku hanya tertawa lucu, aku katakan padanya bahwa aku bangga padanya. Aku juga berterima kasih karna sudah membawa nama baik sekolah.
Jika aku yang ikut olimpiade itu, pastilah belum tent u aku bisa membawa nama baik sekolah. Mungkin ini merupakan jalan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa padaku. Aku yakin dibalik semua ini pasti ada hikmahnya. Meskipun tak dapat ikut olimpiade, tapi aku tetap bersyukur karna bisa kembali lagi ke sekolah dan bertemu teman-temanku. Aku masih bisa belajar lagi. Dirumah, aku bisa bertemu keluarga yang sangat-sangat mencintaiku. aku ikhlas dan aku bersyukur atas kehidupanku. Aku tahu rencana Yang Maha Kuasa lebih indah dari pada yang kupikirkan sebelumnya.

TAMAT







Nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen:
-          Nilai Agama
Bukti: Setelah selesai makan, aku akan sholat, bersyukur untuk segala nikmat hari ini, meminta agar dipermudahkan menuju impianku, dan mengadu pada yang Maha Kuasa tentang keadaan diri ini yang sungguh lemah dan tidak berdaya.
-          Nilai Sosial
Bukti:  Setelah berbincang-bincang cukup lama, Anggun pun pamit pulang.
-          Nilai Moral
Bukti:  Biasanya setelah pulang sekolah Della memberi tumpangan jika dia tidak mengikuti bimbel diluar. Jika tidak ada Della, maka aku akan naik angkutan umum untuk sampai kerumahku.
-          Nilai Budaya
Bukti:  Sampainya dirumah, aku selalu mengucapkan salam ketika masuk kedalam rumah.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar