Assalamualaikum wr. wb.
gue ngepost cerpen yang part 2 dari judul cerpen "sedikit kebahagiaan". gue juga ga tau ya awalnya kenapa ngasih judul itu dan maknanya apa, ya happy happyan aja kale ya.. intinya gue suka nulis wkwk berharap nanti bisa bikin buku, ato karya gue bermanfaat buat para pembaca. ambil positifnya ya, yang negatif tolong pake banget ditinggalin hmm;;)
Sedikit Kebahagiaan
Part 2
Untuk liburan semester kali ini aku menyempatkan untuk
liburan ke Bandung di tempat mama. Pagi yang cerah di negeri rantauanku. Aku
membawa sebuah koper besar dan sebuah tas punggung menaiki tangga eskalator ke
lantai atas. Aku sudah tak sabar ingin pulang ke negeriku untuk sementara waktu,
menghabiskan liburan panjang seorang mahasiswi. Aku masuk ke pesawat, mencari
tempat dudukku. Aku pun duduk dengan rasa gembira, aku mulai mencari posisi
aman agar aku merasa nyaman selama perjalanan ini. Kuambil ponsel disaku
jeansku, melihat apakah ada pemberitahuan, ya aku sudah tahu bahwa jarang
sekali ponselku berbunyi. Karna hal itu, aku segera mematikan ponselku untuk
sementara waktu. Aku mulai nyaman dan tertidur untuk beberapa saat. Aku memilih
untuk duduk dipinggir agar dapat melihat keluar jendela. Berharap aku dapat
melihat pemandangan indah walaupun hidupku tak seindah pemandangan yang
kulihat. Sekitar empat jam berada dalam perjalanan ini, akhirnya aku sampai di
negeri tujuanku. Aku bergegas keluar dari pesawat dan menyelesaikan semua urusanku
dibandara dan tak lupa kuambil koperku. Aku tiba di Jakarta sekarang, pikirku.
Selama hampir 2 jam kulanjutkan perjalananku dari Jakarta ke Bandung, ini
terlalu lama bagiku. Ternyata masih sepikiran denganku, keadaannya masih sama.
Lautan kendaraan memenuhi kota ini. Tiba di kota Bandung sekitar pukul lima
sore, aku pun sampai dirumah mama. Aku turun dari taksi dan menurunkan semua
barang-barangku. Aku mulai silau dengan sinar matahari dinegeri ini. Aku
membuka pagar dan berjalan perlahan-lahan menuju ke depan pintu. Aku ayunkan
jemariku ini dengan maksud ingin mengetuk pintu namun belumlah jemari ini
sampai, pintu telah terbuka dengan sendirinya. Aku tahu ada seseorang dibaliknya-
Aku melihat mama ada di belakang pintu dengan raut wajah
bahagia menyambutku dengan hangat. Sudah lama sekali aku tidak melihat
kebahagian yang mungkin datangnya hanya sesekali hingga menunggu keajaiban dari
yang MahaKuasa. Mama tersenyum bahagia dan langsung menyambarku dan memelukku.
Sudah sangat lama sekali ini tidak terjadi. Saat masa-masa kuliahku ini, aku
hanya bisa menelpon mama satu minggu sekali. Bahkan kami sangat jarang sekali
bertukar pesan. Bukan mama yang salah, tapi aku yang putuskan untuk hidupku.
Aku tahu ini mungkin hal yang tidak wajar bagi seorang anak perempuan dan
ibunya. Seperti tidak ada kedekatan spiritual. Pembantu dan supir kesayanganku
pun ikut hadir menyambutku. Aku merasa sangat senang. Mama mengajakku ke meja
makan. Mungkin dia tahu bahwa anaknya ini telah kelaparan dari empat jam yang
lalu. Dan benar-benar seperti perkiraanku, kami benar-benar makan bersama.
Disaat yang seperti inilah yang aku sangat-sangat rindukan. Apa gunanya punya
banyak harta yang bergelimpah namun hati ini tetap sepi tanpa diisi dengan
kebahagiaan. Saat makan, mama mengatakan bahwa telah memberitahu Rasti bahwa
hari ini aku akan pulang untuk liburan. Rasti tahu aku pasti akan sangat lelah.
Akhirnya, dia bilang pada mama bahwa besok dia akan datang kerumah untuk
menjemputku dan mengajakku jalan-jalan. Dia juga bilang pada mama bahwa dia
ingin mengajakku ke taman rekreasi terbaru di Bandung. Yah sebenarnya aku lega
ternyata Rasti sangat merindukanku juga. Aku dengan sengaja jarang menelepon
atau bertukar pesan dengan Rasti. Aku tidak ingin teringat dengan masa laluku
yang juga ada kaitannya dengan Rasti. Karna itu pasti akan sangat membuatku
sedih.
Setelah selesai makan dan berbincang-bincang dengan mama,
aku menuju kekamarku dilantai dua. Sudah hampir setahun lebih aku tidak
menginjakkan kakiku disini. Akhirnya aku dapat kembali walaupun hanya untuk
beberapa saat. Aku masuk kamar, membersihkan tubuhku dan mengganti pakaianku. Aku
berdiri di balkon dan melihat pemandangan disekeliling komplek rumah mama.
Tetap seperti dulu pikirku, tetap asri. Aku mulai mengenang masa-masa terakhirku
disini waktu itu. Tiba-tiba aku teringat pada.... Nicky-
Kuhapus semua lamunanku itu. Aku pun berjalan ke tempat
tidur dan menghempaskan tubuhku diatas tempat tidur. Kuberikan masukkan dan
semangat pada diriku sendiri bahwa aku harus segera tidur dan melupakan semua
kelelahan hari ini. Alhasil, aku pun dapat tertidur pulas, walaupun aku tahu
dan aku dapat merasakan secercah rasa yang diam-diam masih bertunas dalam hati
ini dan aku juga tahu bahwa sampai kapan pun aku tidak dapat melepaskan rasa
itu meski aku berlari sampai ke sisi sudut dunia ini.
*
Sinar matahari pagi menyusup diantara celah jendela. Aku
perlahan terbangun dengan sedikit demi sedikit membuka mataku. Kulihat jam
sudah menunjukkan pukul 6.30. Aku terkejut dan bergegas bangun dari tempat
tidurku. Aku berlari mengambil handukku dan menuju kamar mandi. Tak beberapa
lama, aku sudah selesai dan mengenakan pakaianku yang bersih. Aku turun dengan
berlari-lari kecil menuju dapur. Berharap ada sesuatu yang dapat kumakan untuk
sarapan pagi ini. Aku merasa sangat-sangat lelah dengan perjalanan kemarin.
Akibatnya aku lampiaskan semuanya pada tidur panjangku tadi malam. Aku
menemukan mama dengan setumpuk pekerjaannya didapur bersama bi Minah yang
sedang mencuci piring. Begitu banyak pekerjaan mama yang tertumpuk di atas meja
makan. Aku mengucapkan selamat pagi pada semua yang ada didapur. Mereka pun
sontak saat melihatku langsung tersenyum. Aku membuka tudung saji dan melihat
roti dan selai coklat. Hmm lumayan enak pikirku untuk sarapan pagi pertamaku di
Bandung.
Sambil mengunyah makanan, sambil itu pula mama menanyaiku
tentang banyak hal. Mulai dari studyku sampai masalah perasaanku. Namun, saat
mama bertanya tentang siapa pacarku saat ini. Aku hanya bisa diam, aku sedikit
menunduk. Lalu mama langsung berkata lagi, “mama sudah tahu yang sebenarnya”,
sambil tetap mengayunkan penanya mengerjakan berbagai pekerjaan kantornya.
Semenjak aku pergi, mama merasa sangat kesepian, Rasti sering kesini. Dia
sering membawakan mama makanan dan selalu bertanya kapan aku pulang. Tapi mama
berkata padanya bahwa mungkin akan sangat lama. Rasti tampak sedih. Walaupun
mama sedih, untunglah ada Rasti yang sering berkunjung kerumah ini. Dia temanku
yang sangat baik. Dia bilang kalau aku punya masa lalu dengan Nicky. Dan sudah
pasti mama tahu bahwa itu bukan masalah biasa, melainkan masalah perasaan. Aku
pun hanya menjawab semua pertanyaan mama dengan sebuah senyuman. Aku harap itu
cukup untuk menyampaikan semua yang aku rasa.
“Awalnya
mama tidak yakin dengan keputusanmu untuk berkuliah di luar negeri. Mama tau
ini mungkin sulit bagimu menghadapi masalah ini sendirian tanpa kakakmu. Karna
keegoisan mama dan papa akhirnya kamu jadi begini. Bahkan untuk urusan
perasaanmu saja mama tidak tahu apa-apa” ucap mama.
Aku lihat air mata itu. Air mata yang mengalir di pipi mama. Aku berdiri dari
tempat dudukku dan memeluk erat mama dari belakang tubuhnya. Sambil terus
berkata dalam hati agar mama tidak khawatir dengan diriku ini yang bisa menjaga
diri. Aku sudah terbiasa dengan semua ini. Aku kuat. Aku bisa melewati semua
ini dengan semua keajaiban yang telah Tuhan berikan padaku.
“Mama jangan sedih bahkan menangis seperti ini. Aku
baik-baik saja. Aku kuat” pintaku. Mama pun menghapus air matanya sambil
melanjutkan perkataannya. “Rasti sudah beritahu mama soal kamu dan Nicky.
Maafkan mama, mama bukanlah ibu yang baik bagi Nanda”.
Aku melepaskan pelukanku dan kembali ke tempat dudukku.
Aku tahu pasti Rasti telah menceritakan semuanya dengan mama. Yah rasa lega
bercampur bingung menyelimuti hati ini. Aku terdiam lalu bibir ini pun berucap,
“yang lalu biarlah berlalu. Aku bukanlah yang dulu, aku selalu ingin jadi
penyemangat bagi orang yang kusayang. Tidak perlu mengkhawatirkanku”, ucapku.
Mungkin ini terlalu egois bagiku. Namun kupikir
kata-kataku tadi telah menjelaskan semuanya pada mama. Mama pun tersenyum
mendengar perkataanku. Aku lega dan ikut tersenyum. Aku bangga pada diriku sendiri
karna aku tetap kuat bahkan sampai titik tenggelamnya jiwaku ini. Aku pun ikut
tersenyum manis pada mama. Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu mamaku yang
sangat aku sayangi. Aku tahu engkau terpuruk dengan kepergian kakak dan
persoalanmu, tapi yakinlah aku selalu ada untukmu untuk selalu menopangmu
walaupun kau tak pernah selalu ada untukku. Aku akan selalu jadi balok yang
kokoh yang siap menopang rumah tua meski gersang dan badai datang menghampiri
duniamu. Sama seperti aku menopang sahabat terbaikku bersama orang yang
kusayang.
Aku melanjutkan sarapanku. Aku seneng karna sedikit
kebahagiaan lagi mulai dihari-hari berhargaku. Roti isi selaiku telah habis
kulahap, mungkin aku begitu lapar dengan semua kebahagiaan ini. Melihat aku
yang begitu tenang dan sangat ceria. Lebih tepatnya lebih ceria dari
keterpurukanku dulu. Mama menyuruhku bersiap-siap karna sebentar lagi mungkin
Rasti akan menjemputku. Aku terkejut, dengan spontan aku langsung meminum tehku
dan bergegas kembali ke lantai atas menuju kamarku untuk mengganti pakaian yang
mungkin lebih pantas untuk bertemu orang yang sangat kurindukan, sahabatku.
Selang beberapa menit, aku telah siap dengan fisik dan
mentalku. Mama pun terkejut melihat dandananku yang terlihat memang sudah
dewasa. Kami pun saling menatap lalu berpelukan. Kali ini aku sekali lagi
merasa sangat-sangat bahagia. Terima kasih Tuhan.
**
Tak beberapa lama menunggu, ponselku berbunyi. Rasti
menelponku memberitahukan bahwa dia telah menunggu didepan rumah. Aku pun
berkata pada mama bahwa Rasti telah sampai, mngkin dia tidak ingin mampir.
Rasti pasti berpikir bahwa mungkin akan menghabiskan beberapa menit untuk
singgah sebentar sementara ada banyak tempat yang ia ingin tunjukkan padaku.
Aku pun berpamitan pada mama. Mama mengantarku sampai ke depan pintu.
Aku terus berjalan tanpa ragu menuju ke mobil yang Rasti
naiki sekarang. Kaca mobil yang dibuka Rasti pun dapat membuatku mengenali
siapa yang mengemudikan mobil itu. Aku tersenyum pada Rasti. Terburu-buru aku
masuk ke mobil. Kubuka pintu mobil tanpa ragu. Setelah aku menaiki mobil,
kubuka sedikit kaca mobil dan melambaikan tanganku sekali lagi agar mama dapat
melihat anak gadisnya ini kuat. Mobil pun perlahan bergerak. Aku hanya bisa
terdiam didalam mobil sampai Rasti terlebih dahulu menegurku.
“Nandaaaaaa.. tahukah
kamu? Aku sangat merindukanmu. Mengapa kamu jarang sekali membalas pesanku”
ucapnya.
Aku pun tersenyum.
“iya Rasti, aku juga
sangat merindukanmu. Maafkan aku Ras, banyak sekali tugas yang harus kukerjakan
sehingga aku tak sempat untuk membalasnya. Bagaimana kabarmu?” tanyaku.
“yasudahlah tidak
apa-apa. Yang terpenting sekarang kita telah bertemu. Aku dan Nicky akan
membawamu kemana pun kamu mau selama liburanmu ini”, ia tetap menampakkan
senyum kebahagiaannya itu.
“iya Ras. Terima kasih
ya. Te..rima kasih juga Nic” sontak aku langsung terdiam.
“sama-sama Nan. Anggap
saja ini sebuah reuni sahabat”., jawab Nicky.
Aku pun hanya tersenyum. Benar juga, Nicky hanya
menganggapku sahabat. Tapi mengapa perasaan ini tiba-tiba bertunas kembali? Aku
mungkin yang salah. Aku tidak boleh berpikir seperti ini. Nicky hanyalah milik
Rasti. Mereka saling mencintai. Walaupun aku sering mendengar kabar bahwa
mereka sering bertengkar untuk jangka waktu yang lama. Nicky yang terkadang
terlalu sibuk membuat Rasti seringkali tidak mendapatkan kabar darinya. Namun,
mereka tetap baikan dan selalu bersama. Aku senang berada diantara orang yang
kusayangi. Selama perjalanan menuju tempat rekreasi, mereka sering bercanda.
Rasti terlihat sesekali tertawa lebar dan aku bisa merasakan kebahagiaan Rasti.
Nicky pun tak segan-segan menyuguhkan lelucon lucu yang mengocok perut. Aku pun
terkadang tertawa walau tak bisa seperti Rasti. Kupikir sedikit demi sedikit
ini akan menjadi lebih baik.
Sampai di tempat rekreasi, kami pun mulai bermain
permaianan disana. Rasti terlihat sangat bahagia. Sesekali dia menggandeng
tanganku dan Nicky. Dia tepat berada ditengah-tengah kami. Sulit untuk
mengungkapakan perasaanku karna ini merupakan sesuasana yang mungkin tidak akan
terjadi sekali lagi. Kami bertiga tetap tertawa dengan kesenangan kami hari
ini.
Karna
merasa sangat lelah, akhirnya aku berkata pada Rasti bahwa aku ingin pulang dan
mungkin rekreasinya bisa dilanjutkan besok. Waktu telah menunjukkan pukul 6
sore. Matahari semakin redup digantikan dengan bayangan malam yang begitu
gelap. Sebelum pulang, kami makan malam terlebih dahulu. Setelah selesai makan,
karna Rasti ingin cepat-cepat pulang karna mamanya menelpon untuk segera
pulang. Akhirnya, kami mengantarkan Rasti terlebih dahulu pulang kerumahnya.
Rasti meminta maaf karna mamanya menelpon diluar dugaannya. Aku pun mengerti
jika mungkin ada sesuatu yang lebih penting yang harus dilakukan Rasti
dibandingkan mengantarkanku pulang.
Setelah
mengantarkan Rasti, tersisa hanya aku dan Nicky didalam mobil. Nicky pun
memintaku untuk duduk disampingnya. Aku pun mengiyakan. Aku pindah posisi ke
depan, disamping Nicky. Sepanjang perjalanan aku hanya diam sambil memainkan
ponselku. Nicky pun memulai pembicaraannya.
“Nan, bagaimana studymu
disana?” tanya Nicky.
“oh, baik-baik saja”
ujarku.
“apakah kau merasa
senang disana? Tidakkah kau ingin pulang?” tanyanya lagi.
Aku terdiam lalu
melihat kearahnya yang terlihat serius bertanya sambil menyetir mobil.
“ya aku sangat senang
berada disana. Aku tidak bisa memastikan kapan aku pulang. Aku mungkin akan
menetap disana beberapa lama lagi” jawabku dengan tenang.
“sebelumnya, aku
berpikir tidak akan bertemu denganmu lagi sejak kau memutuskan untuk berkuliah
diluar negeri. Tapi tidak kusangka ternyata kita akan bertemu lagi walaupun
dipisahkan waktu yang cukup lama, kira-kira satu tahun lebih”, jelasnya.
“ah aku tidak berpikir
jika kau akan berpikir seperti itu, Nic. Aku cuma ingin mencari suasana baru”,
kataku.
“bisakah kita seperti
dulu lagi?”, tanyanya.
“hah?” aku sedikit
terkejut.
“ahh sudahlah tidak
usah dipikirkan lagi. Oh iya, nanti kalau aku menelpon ataupun ada pesan dariku
tolong dibalasnya” pintanya.
“iya” jawabku sambil
mengangguk.
Tak terasa obrolan kami pun ternyata sampai pada aku tiba
didepan rumahku. Aku mengucapkan terima kasih padanya. Aku keluar dari mobil. Aku
berdiri disamping mobilnya, lalu dia membukakan kaca mobilnya sambil
mengklakson yang mengisyaratkan bahwa dia berpamitan. Aku pun hanya bisa
melambaikan tangan dan tersenyum kecil.
Mobilnya tak kelihatan lagi pikirku. Aku pun melangkah
membuka pagar dan sampai didepan pintu. Aku pun mengetuk pintu dan ternyata bi
Minah yang membukakan. Aku masuk kedalam rumah. Aku bertanya pada bi Minah
dimana mama. Bi Minah menjawab kalau mama sudah tertidur. Aku tahu pasti mama
sangat lelah dengan sekian banyaknya tugas yang harus dikerjakannya. Aku pun
naik ke lantai atas dan mengganti pakaianku dengan piyama tidur. Aku memikirkan
hari keduaku di Bandung yang mungkin tidak akan kulupakan. Aku berada diatas
tempat tidur sambil melihat langit-langit kamarku. Lalu tak lama aku pun
tertidur. Sungguh hari yang menyenangkan bersama Rasti dan Nicky.
***
Tak terasa sudah satu minggu aku berada di Bandung,
liburan bersama mama dan kedua sahabatku. Setelah mungkin hampir lima hari kami
berekreasi, dan kemarin kami tidak pergi bersama karna aku menemani mama pergi
jalan-jalan ke mall. Tapi untuk hari ini, kami pasti pergi bersama-sama
kembali. Rasti berencana ingin menonton film aksi yang baru saja tayang di
bioskop terdekat. Aku hanya menurut saja. Bagiku, tidak ada kelebihan yang bisa
aku lakukan untuk menyenangkan hati Rasti selain ini.
Seperti biasa, mobil hitam itu selalu menjemputku setiap
pagi. Namun, kali ini ternyata tidak ada Rasti disana. Aku bertanya dalam hati
mengapa tak ada Rasti. Mengapa Rasti tidak ikut? Ya sudah kuduga, Nicky pasti
tahu apa yang kupikirkan. Dia hanya berkata padaku seolah-olah menjawab semua
kegelisahanku.
“tiba-tiba saja tadi
pagi Rasti meneleponku. Dia tidak bisa ikut pergi menonton bioskop dengan kita
karna ada suatu hal penting yang mendadak di kampusnya. Dia mencoba
menghubungimu tapi katanya ponselmu tidak aktif. Dia bilang jika kita ingin
pergi, pergi saja tanpa dia. Karna aku merasa tak enak padamu, jadi biarkan
kita pergi menonton berdua”, jelasnya.
“emm.. oh iya ponselku
memang tidak aktif. Ya tenang saja, aku tidak apa-apa jika hanya berdua”
jawabku.
“kau tidak perlu merasa
gugup didekatku”, pintanya.
Aku langsung saja
terkejut mendengar perkataannya. Apa sebenarnya maksud dari semua ucapannya?
Apa dia mencoba mempermainkanku? Aku tidak semudah termakan olok-olokannya.
“ah.. apa yang kau
bicarakan? Aku sama sekali tidak gugup” sahutku.
“apa benar? Tapi aku
merasa masih ada sebuah akar yang ingin tumbuh kembali seperti dulu layaknya
tanaman subur yang ingin hidup bebas” Nicky mulai serius.
Aku tahu maksud
perkataannya. Aku tetap mencoba mengalihkan perkataannya.
“a..a..apa yang kau
katakan? Jangan bercanda! Menyetirlah dengan baik” aku pun terpaksa bicara.
Aku harap semua yang
kuucapkan tidak akan mengubah semuanya. Tidak akan mengubah pandangan Nicky
terhadapku. Aku hanya ingin bahagia, hanya itu saja. Pikiranku terus terpusat
padanya. Aku tahu itu adalah perbuatan yang seharusnya tak pernah kulakukan.
Aku mungkin terlalu banyak memikrkan sesuatu yang tak
penting hingga ternyata kami telah sampai di mall. Setelah Nicky selesai
memarkirkan mobilnya, kami pun turun berdua. Kami berjalan berdampingan menuju
bioskop. Sampai di bioskop, aku hanya menunggunya yang sedang mengantri tiket.
Setelah mendapatkan tiket, kami pun langsung memasuki ruangan teater. Aku duduk
berdampingan dengannya. Hanya kami berdua, tanpa Rasti. Apakah ini pantas? Aku
pergi dengan kekasih sahabatku sendiri. Ini wajar pikirku. Tapi.. mungkin ini
bisa jadi tidak wajar karna ada yang bertunas dihati ini.
Selesai dari menonton, Nicky pun mengajakku makan
bersama. Kami makan disebuah restoran Jepang. Aku senang tapi disisi lain aku
juga heran mengapa sikap Nicky begitu aneh padaku. Kami pun mulai memesan dan
tak beberapa lama kemudian pesanan kami telah dihidangkan. Aku mulai mengambil
sumpit dan memakan satu per satu makanan yang kupesan. Nicky hanya terdiam dan
menunduk serta memainkan sumpitnya. Dia mulai bercerita padaku.
“kemarin saat kita
tidak pergi bertiga, aku bertengkar dengan Rasti” ujarnya.
Aku pun berhenti makan
dan melihat kearahnya. Nampaknya ia sangat sedih. Aku tahu dia sangat mencintai
Rasti. Dia masih tidak melihatku. Namun, aku terus memandanginya sambil
berusaha ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“memangnya kau ada
masalah apa dengan Rasti?”, tanyaku.
“hubungan ini memang
sudah sejak lama sering memiliki masalah. Aku pun tak mengerti apa penyebabnya.
Kau tahu? Kami pernah putus beberapa kali dan kemudian kembali lagi. Walaupun
sudah menginjak dua tahun lebih tapi tetap saja begini”, jawab Nicky dengan
serius.
“emm jadi apa yang
mungkin bisa kubantu?”, aku tetap ingin tahu. Dan aku pun mulai melanjutkan
melahap makananku.
“aku tidak tahu apa
perasaanku yang sebenarnya pada Rasti. Selama ini aku hanya mencoba”, jawab
Nicky.
Mendengar perkataanya
itu, aku tersendak dan batuk. Aku langsung minum air dan segera bertanya
kembali apa maksud Nicky.
“men...mencoba?
maksudnya?
“aku mencoba sesuatu
yang baru dengannya. Dengan begitu, aku harap dapat melupakan cintaku yang
dulu. Tapi mungkin aku salah. Aku telah menyia-nyiakan orang yang dengan tulus
mencintaiku, selalu saja disisiku, namun aku tidak mau membuka hatiku padanya”
jelasnya.
Sisi lain dari diri ini
mulai mencari kebenarannya. Menganggap seluruh hal disekitarnya hampa. Hanya
hatinya sendiri. Diam. Terpaku pada sesuatu yang tak kunjung menghampiri.
Harapan yang tak luput dari penyesalan selalu menghantui bagai lonceng yang
selalu berbunyi.
“cinta.. cinta yang
dulu? Sebenarnya apa yang kamu bicarakan, Nic? Aku benar-benar tak mengerti”,
aku mulai cemas.
“aku tahu kamu pasti
mengerti Nan. tapi mungkin kamu harus pikirkan perkatanku tadi berulang-ulang”
jawabnya.
Akupun heran sambil
terus menatapnya dengan tatapan seperti anak kecil yang tak mengerti apapun.
Aku berharap ini hanya sebuah mimpi.
****
Perjalanan hari ini sungguh membuatku lelah. Aku hanya
bisa menatap langit-langit kamarku. Diperjalanan pulang tadi, Nicky meminta
nomorku. Aku hanya bisa bilang iya dan memberikannya. Apa maksud dari semua
ini? Mengapa liburanku harus seperti ini? Apa ini skenario yang telah Tuhan
berikan untukku? Benar-benar tidak kusangka akan terjadi begitu cepat. Skenario
yang telah disusun sedemikian rupa untuk makhluk ciptaan-Nya.
Habis lamunanku, habis pula pandanganku ke langit-langit
kamar. Disaat itulah ponselku berbunyi. Ada sebuah pesan dari nomor yang tak
kukenal. Aku bisa menebak jika itu pesan dari Nicky tapi aku tetap berusaha
mengontrol diri. Aku yakinkan diriku jika itu bukan pesan dari Nicky. Tapi
ternyata aku salah, pesan itu memang dari Nicky. Apa yang harus kulakukan?
Pura-pura tidak tahu? Ya, kau harus pura-pura tidak tahu saja. Semakin sikap
ketidaktahuanku menguat bak benteng pertahanan, semakin itu pula dia datang
menghampiri seperti ingin menyerangku. Tak bosannya, dia malah menelponku yang
tak kunjung membalas pesannya.
Obrolan ini cukup singkat. Aku tak mau berharap lebih.
Aku tak mau tersakiti lagi. Aku tak mau jika rasa ini bertunas kembali. Aku tak
bisa berpura-pura. Alhasil, aku pun dengan berat hati membalas pesannya. Tak
apa, anggap saja ini sebuah kecerian sesaat. Andaikan dia tahu, seberapa besar
rasa ini padanya. Dari dulu sampai detik ini. Mungkin jarakku jauh tapi hatiku
tetap dekat bersamanya. Aku tahu jika aku salah harus menyimpan rasa cintaku
ini pada orang yang salah. Tapi siapa yang harus kusalahkan? Rasaku padanya?
Tak mungkin, setiap manusia pasti bisa merasakan cinta dan kasih sayang yang
diciptakan Tuhan. Jadi, apakah aku harus salahkan Tuhan karna telah membuat
perasaan ini? Aku mungkin sangat hina bila aku lakukan itu. Tak ada yang bisa
kusalahkan. Biarkan rasa ini mengalir dengan sendirinya. Biarkan diri ini
terajut rasa bahagia yang sejak dulu ingin kumiliki.
Tahukah dia, sejak dulu aku mencoba beranjak untuk bangun
dari rasa ini tapi tetap tak bisa. Sampai kapan aku harus begini. Selalu ingin
tahu tentangnya. Selalu merasa senang bila ia senang melihat keceriaanku.
Selalu mencibir sikapnya yang kadang mengomentariku walaupun sebenarnya
kenyataan berbicara lain, aku senang.
*****
Hari ke hari, kami terus berjalan bersama tanpa Rasti.
Rasti mendadak harus terus fokus terhadap kuliahnya yang terlalaikan. Dia
meminta maaf denganku dan meminta Nicky untuk terus menemaniku selama
liburanku. Aku tak mengerti jalan pikiran orang-orang disekitarku. Aku tetap
menganggap ini hiburan selama liburanku. Aku mungkin tak kan mendapatkan hal
ini untuk kedua kalinya. Disamping itu, siapa sangka ternyata aku sudah hampir
satu bulan di Bandung. Aku semakin sering bertukar pesan dengan Nicky dan
Rasti. Dan lebih banyak pesan untuk Nicky dibandingkan Rasti. Rasti terlalu
sibuk dengan kuliahnya.
Kupikir
ini adalah awal kebahagiaan, tapi ternyata aku salah. Aku terus menerus salah.
Nicky dan Rasti mengakhiri hubungan mereka. Aku tak tahu sebabnya. Dia
menelponku. Sepulang pembelajaran di kuliahnya, Rasti memintaku untuk
menemuinya. Aku yang tak tega mendengar suaranya yang sedih langsung bergegas
menemuinya. Di sebuah cafe bernuansakan kota Paris menjadi saksi bisu luapan
air matanya. Aku yang hanya bisa mendengar celotehan dan semua ceritanya terus
menerus berkata sabar sambil menopangnya. Dia menangis dengan sendunya. Sekali
lagi, aku merasa bersalah karna aku hanya bisa berbuat begini tanpa ada hal
lebih. Dan aku berpikir, alangkah buruknya Nicky, mengapa dia dengan mudahya
melepas Rasti.
Karna
tak sanggup melihat keadaan Rasti yang seperti itu, aku berinisiatif untuk
mengantarnya pulang. Aku berharap dia dapat menenangkan dirinya dahulu dirumah.
Setelah dia sampai dirumahnya, barulah aku pulang dengan taksi yang sama yang
mengantarkan Rasti pulang. Di taksi, pikiranku tak enggannya mau berubah. Tetap
ingin memikirkan Rasti yang sedang sedih. Aku tahu disaat-saatku seperti itu,
tak ada yang menopangku. Aku hanya bisa menyimpannya sendirian dan sekarang
ternyata aku lebih sakit jika orang terdekatku merasakan apa yang pernah
kurasa. Cukup diriku saja yang menderita. Jangan orang tuaku, jangan pula
sahabatku.
******
Malam harinya...
Tak ada satu pesanpun diponselku. Aku yang bosan terus
mendengarkan lagu sampai mama mengetuk pintu kamarku.
“Nan, Nanda, apa kamu
sudah makan, nak?,” tanya mama.
Aku cuma bisa menjawab
dari dalam tanpa membukakan pintu untuknya. Tak apalah pikirku.
“sudah ma, tadi sore
aku sudah makan dengan Rasti. Dan sekarang aku hanya ingin tidur.” jawabku.
“baiklah. Semoga mimpi indah
ya, Nan.” harap mama.
Aku hanya diam dan tak
menjawab apapun. Aku mematikan lampu kamarku dan segera tidur. Aku harap mama
telah menjauh dari kamarku.
Aku menutup diriku dengan selimut lembut. Sambil terus
memikirkan Rasti dan Nicky. Aku berharap dan memohon pada Yang Maha Kuasa agar
tak terjadi sesuatu yang buruk dengan keduanya. Dengan memejamkan mata, tak
lama dari itu aku tertidur dengan pulas hingga pagi datang menyongsong.
*******
Tak ada yang mengajakku pergi hari ini. Aku tahu mereka
berdua pasti masih merasa sedih satu sama lain. ponselku tetap sunyi. Aku hanya
tinggal diam dirumah sambil menonton tv dan mendengarkan lagu favoritku.
Siangnya,
aku tertidur lelap di sofa didepan tv. Mama yang melihatku tertidur waktu itu,
datang menghampiri berusaha membangunkaku untuk pindah ke kamar. Sayangnya, aku
terlalu letih untuk bangun hingga hari telah sore.
Jam
dinding di ruang itu membuatku terbangun. Waktu telah menunjukkan pukul lima
sore. Aku duduk sejenak mengambil nafas dan aku siap berlari menuju kamar
mandi. Aku harus membersihkan tubuhku. Setelah ritual mandiku yang hampir
sejam, aku sudah siap menonton tv dengan mengenakan baju tidurku. Tapi
rencanaku gagal, ponselku yang sepi pun berbunyi. Pesan singkat dari Nicky
menghampiri.
Betapa
terkejutnya aku setelah bertukar pesan dengan Nicky. Aku tahu yang sebenarnya.
Aku makin bertambah merasa bersalah. Aku masuk ke kamarku dan mulai bertukar
pesan singkat dengan Nicky. Bisa kutebak
jika ada sesuatu yang menggenjal pikiranku. Dia telah putus dengan Rasti. Aku
tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa mendengarkan semua ceritanya.
Membosankan jika hanya bisa mendengar tapi tak bisa memahami.
Mereka
terlibat beberapa masalah, dan mungkin aku salah satu masalah mereka. Sangat
tidak enak menjadi beban orang lain. Aku suka mereka, pasangan yang serasi
walaupun aku tak bisa seperti mereka. Bagiku, menatap mereka bersama
seolah-olah aku sudah seperti mereka. Apa yang perlu kurisaukan? Aku takut
kehilangan Nicky? Tidak, Rasti ada bersamanya. Selalu menjaga Nicky. Pasti
sekarang Nicky merasa sangat-sangat sedih. Rasti memutuskan untuk mengakhiri
hubungan mereka. Apa yang salah dari hubungan mereka? Mereka dekat, saling
memberi kabar, saling mengasihi, apa lagi yang kurang dari tali kasih mereka?
Pertanyaan datang bertubi-tubi dipikiran ini. Aku mungkin tak tahu alasannya
tapi secepatnya aku akan tahu jawabannya.
********
Sama seperti dua hari yang lalu, tak ada yang mengajakku
pergi keluar. Jika aku hanya pergi sendiri, mungkin akan sangat membosankan
berjalan sendirian ditengah keramaian. Aku memutuskan untuk tetap dirumah,
ditemani cemilan dan sebuah kotak idiot yang kusebut televisi.
Aku bosan dengan kegiatan ini. Aku coba membuka jejaring
sosial, tempat dimana orang bisa menulis cerita, sindiran, dan curahan hati
mereka, ya twitter. Terlihat jelas sekali tweet Rasti yang berisikan cemoohan
yang sepatutnya tak harus diungkapkan. Aku pun mencoba mengutip kata-katanya
sambil membalas apa maksudnya. Tapi jawabannya membuat dada ini merasa sesak.
Aku cuma bisa terdiam. Kupikir dalam-dalam, apa mungkin liburanku ini salah?
Seharusnya aku tidak perlu repot-repot pulang untuk liburan ke Bandung. Toh di
negeri rantauanku lebih menarik dan banyak sekali tempat-tempat yang bisa
dikunjungi. Tapi aku malah memilih pulang. Aku rindu suasana rumah. Tapi apakah
aku tidak dirindukan seperti aku merindukan mereka. Aku menutup ponselku dan
berbaring diatas sofa, kuambil cemilanku perlahan lalu memakannya. Aku masih shock.
Malam harinya...
Apa ini? Pesan singkat dari Nicky lagi. Apa yang
sebenarnya terjadi? Mengapa seolah-olah membelitkan hidupku? Mengapa dada ini
seolah-olah kembali sesak? Lalu mengapa tunas dalam hati ini semakin tumbuh?
Apa mungkin ada yang salah dari diri ini?
Banyak hal yang diceritakan melalui pesan singkat ini
selama hampir dua jam sebelum aku memutuskan untuk terlebih dahulu tidur. Tidak
mungkin sekali Nicky menjadikanku pelarian disaat-saat ia dan Rasti dalam hal
sulit. Aku yakin Nicky hanya ingin menceritakan semua keluh kesahnya. Tak apa,
aku tetap menjadi penopangnya. Dan perasaan ini semakin tumbuh subur bak pohon
yang siap tumbuh kokoh.
Tiba-tiba,
sebuah pesan singkat dari Rasti muncul di pemberitahuan ponselku. Dia
mengajakku bertemu besok disebuah cafe tempat kami biasa bertemu. Pesan itu sangat
singkat, jelas dan menunjukkan betapa keras perasaannya. Aku hanya menjawab
iya. Namun, tak ada balasan lagi darinya. Itu sudah cukup bagiku, aku telah
mengetahui jawabannya tanpa ia beritahu.
Paginya...
Aku telah siap untuk rencana hari ini. Rasti pasti sedang
dalam perjalanan ke tempat yang akan kami tuju. Tas jinjing ini sudah siap
menemaniku hari ini. Semoga hari ini aku beruntung, pintaku dalam hati.
Sesampainya di cafe Paris, aku melihat kiri dan kanan ku, kalau-kalau Rasti
sudah muncul. Dia yang melihatku juga, langsung melambaikan tangannya padaku.
Aku pun menghampirinya dan segera duduk. Dua cappucino telah menemani kami.
Kami duduk berdua, bercerita dengan seriusnya, sesekali tertawa, sesekali juga
kembali serius dengan mata yang berkaca-kaca. Cukup banyak yang kami bicarakan
hingga waktu telah menunjukkan pukul tiga sore. Aku yang harus pulang pun
sesegera mungkin pamitan dengan Rasti.
Malam
harinya, aku mendapatkan pesan dari Nicky. Entah mengapa semakin lama bertukar
pesan, suasana pun semakin memanas. Hingga akhirnya aku tak membalas pesannya
lagi. Satu hal yang tak dapat kumengerti-
“Kamu itu tidak tahu apa-apa, Nan.
Kamu itu jauh, kamu tak kan
mengerti aku dan Rasti.
Jadi, orang seperti kamu itu jangan
sok tahulah”.
Kutipan pesan terakhirnya yang sangat meresahkan diri
ini. Nicky benar-benar berubah. Seperti cerita Rasti tadi siang yang beberapa
dari ceritanya yang tak mampu kuperkirakan sebelumnya.
“Dia sudah berubah.
Bahkan yang kusebut cinta itu tak lagi kudapati. Bagaikan burung yang punya
sarang baru. Ketiadaanmu itu perih. Tapi keberadaanmu itu juga merupakan cambuk
bagiku”.
Kucoba resapi makna dari kalimat-kalimat dua sejoli itu.
Bahkan sampai kepalaku tak dapat lagi memikirkan solusinya, aku pun terlelap.
*********
Satu minggu kemudian....
Untuk yang kesekian kalinya aku bertemu Rasti di cafe
Paris. Sesampainya diriku, Rasti menundukkan kepalanya diatas meja. Kupanggil
dirinya, dia mengangkat kepalanya. Sedihnya diri ini melihat sahabat yang
kukasihi malah berkaca-kaca. Sejuta pertanyaan mulai mengerumi kepalaku ini.
“Ada apa, Ras?”
“baru kali ini aku rasakan sakit
yang bertubi-tubi datang padaku. Tidakkah kau tau? Aku lebih baik tidak
menerima kehadiranmu jika akhirnya begini. Apa kau puas sekarang?”
“aku puas apa, Ras? Aku tak mengerti
apa maksudmu.”
“nyatanya, Nicky itu masih
mencintaimu. Jangan berpura-puralah, kau juga masih mencintainya. Apa ini yang
dibilang sahabat? Mengapa kau mengambil orang yang kucintai? kau dekat dengan
keluargaku, kau juga dekat dengan pacarku, kau mau ambil semuanya ya? Itu yang
kau inginkan kan? Kenapa kau pulang? Kau bilang ingin pergi belajar di negeri
orang. Kau bilang sulit untuk kembali. Sudah lama aku menyimpan perasaan
padanya sebelum kau. Setelah kalian putus, akhirnya dia sadar siapa yang
lebih mencintainya. Dia tahu kehadiranku. Aku lega dengan itu semua. Tidakkah
kau mengerti?”
“apa maksud semua ini? Kau sudah
lama mencintainya?”
“iya, Nan. Iya”,
dia mulai menangis.
Aku tak tahu apa yang
harus kukatakan. Aku hanya terbelalak. Tuhan, mengapa aku sebodoh ini? Mengapa
aku tak pernah tahu perasaan sahabatku sendiri? Ini sakit, sangat-sangat sakit.
“maafkan aku, Ras.
Aku tak tahu. Maafkan aku yang mengacaukan perasaanmu sejak dulu.”
“sudahlah, Nan. Maafmu tak berarti
apapun bagiku saat ini. Awalnya mungkin aku bisa mengerti tapi ketika kulihat
dirimu hari ini, hal itu berubah. Lebih baik kau pulang, tinggalkan aku
sendiri.”
Kini aku mulai mengerti
hidup. Tak semuanya indah saat kau yakin itu akan indah. Bahkan siapapun bisa
menyakiti dan menyembunyikan semuanya dari dirimu. Tak terlepas dari siapapun,
termasuk orang yang paling dikasihi. Tanpa bicara apapun, aku langsung
mengangguk, mengiyakan permintaannya. Walaupun aku juga merasakan apa yang
dirasakannya. Namun, aku hanya bisa—terdiam.
Kupinta pak Ujang, supir mamaku, untuk menjemputku di
cafe Paris. Dimobil, tak henti-hentinya aku terdiam dan memikirkan Rasti. Sepulang
dari bertemu Rasti. Segera kuhubungi Nicky. Kutanyakan semua yang membebani
benak ini. Setelah mendengar semua jawabannya, aku kembali merasakan kecewa
yang kesekian kalinya. Tanpa kusadari, air mata ini mengalir. Mama yang
ternyata mendengar obrolanku mendekatiku dan mencoba menasehatiku. Dia bilang
sebaiknya kami bicarakan baik-baik masalah ini. Karna aku sudah terlalu lelah
memikirkannya, kuiyakan saja apa yang dibicarakan mama. Aku izin ingin keatas
menuju kamarku dan segera beristirahat.
Keesokan harinya, aku tak berniat melakukan apapun. Ini
masih terlalu pagi, tapi tak kudapati mama. Pak ujang bilang mama pergi bersama
rekan-rekan kerjanya. Dan dia berpesan bahwa dia akan pulang larut malam.
Sebenarnya aku tak terlalu memikirkannya. Aku masih tertuju pada dua orang
teman lamaku—Rasti dan Nicky. Aku duduk ditepi kolam sambil memainkan gemercik
air yang sedang memenuhi kolam. Pak Ujang yang dari tadi membersihkan kolam dan
melihatku hanya terdiam mulai berbicara padaku.
“Nanda lagi sedih
ya?”
Mendengar suaranya,
lamunanku pergi menjauh.
“hemm.. ga kok, pak. Cuma ga mau
banyak ngomong aja.”
“ya terserah Nanda mau bilang apa.
Bapak ini sudah lama kenal Nanda sejak Nanda masih bayi, saat ibu ga ada
dirumah, pasti bi Minah sama Bapak yang jagaain Nanda. Maaf ya kalo bapak
lancang, Nanda mikirin temen baik Nanda itu kan?”
“iya pak. Ga apa-apa kok pak. Bapak
sudah Nanda anggep kaya papa Nanda sendiri. Hmm.. iya pak. Rasanya Nanda
sia-sia liburan ke Bandung. Seharusnya Nanda ga perlu repot-repot liburan
disini. Toh diluar negeri banyak tempat yang asik.”
“jangan ngomong kaya gitu atuh Nan.
Bibi sama bapak seneng kalo bisa liat nanda. Soalnya rumah ini sepi, apalagi
sejak ga ada kak Syifa.”
‘iya yah pak. Biasanya, dulu nanda
sama kak Syifa suka main kejer-kejeran sampe kita berdua duduk sebelahan di
tepi kolam karna sama-sama letih lari-lari haha.. tapi sekarang, bukannya nanda
dapet pengganti kak Syifa eh malah terbebani sama temen sendiri.”
Mendengar ucapanku itu
pula, pak Ujang berhenti membersihkan kolam dan mulai mendekatiku. Dia juga
duduk di tepi kolam tak jauh dariku.
“Nanda, setau bapak nih yah, setiap
orang itu ga bisa disamain. Terus juga, setiap orang itu ga bisa digantiin. Mau
sebaik dan sebangga apapun orang itu ya tetep beda. Nanda sama kak Syifa itu
beda, perbedaan itu yang buat bibi sama bapak ga pernah lelah ngurus kalian.”
“coba aja mama, papa, Rasti, dan
Nicky mikirnya sama kaya bapak. Pasti hidup Nanda ga sesedih ini kali ya?!”
“ga ada yang perlu dipertanyain Nan.
Ga ada yang perlu disesali. Awalnya bapak sama bibi juga sedih waktu tahu Nanda
mau keluar negeri. Bukannya di sini banyak ya universitas bagus, tapi Nanda
malah keluar. Tapi sedihnya bibi sama bapak ga lama, karna kita tahu kalo
pilihan Nanda akan jadi yang terbaik buat Nanda. Buktinya Nanda kuliahnya jadi
mahasiswi pinter kan.” Orang tua ini tersenyum melihatku.
“pak, makasih ya
udah ngangenin Nanda. Nanda juga kangen kalian, sekarang Nanda tahu kalo
sebenernya yang Nanda kangenin itu bukan harus mereka. Tapi kalian, kalian
dirumah ini, kalian yang tempat bersandar Nanda. Mama, bibi, sama bapak.
Sekarang Nanda juga tahu kalo sebenernya Nanda juga kangen kak Syifa. Kaya kata
bapak barusan, ga ada yang bisa gantiin kak Syifa. Nanda kangen kakak, Nanda
pengen liat kakak.”
“iya Nan, syukurlah Nanda ngerti.”
“pak, Nanda siap-siap dulu ya. Pak
Ujang hari ini temenin Nanda ya.”
“emang kita mau kemana, Nan?”
pak Ujang mulai keheranan.
“pak Ujang jangan banyak tanya deh.”
Aku
tersenyum seraya bergegas berdiri menuju kamarku.
Tak lama, aku keluar dengan tampilan simple seperti
biasanya. Memakai kaus panjang, jeans, tas yang sering kubawa, flat shoes, dan
rambut dikuncir. Aku panggil pak Ujang dan kami sesegera mungkin pergi. Tak
lupa aku pamitan dengan bi Minah yang keheranan melihat aku yang dari tadi
senyum-senyum sendiri. Aku bilang pada pak Ujang untuk ke toko bunga terlebih
dahulu. Dia terus bertanya-tanya, akan ada apakah hari ini. Tapi setelah dia
tahu aku membeli bunga yang indah dan harum, dia tahu aku menemui orang yang
sebenarnya aku rindukan. Sekali lagi, dia tersenyum padaku dan dia tahu harus
kemana kami pergi.
Sesampainya kami di tempat pemakaman umum...
“wahh.. makam kak
Syifa bersih ya pak?”
“iya, Nan. Ibu kan sering kesini.”
“oh...”
“dua hari yang lalu tepat terakhir
ibu kesini.”
“kak, baik-baik ya disana. Nanda
bakalan jadi lebih baik kok. Malahan Nanda udah janji sama Allah.” Air
mata ini mulai menetes.
Kuletakkan bunga yang
kubeli diatas makamnya. Sejuta rindu dan harapan selalu kubisik pada Tuhan agar
hidupku dan hidup keluargaku selalu bahagia.
*********
Hari ini tepat delapan
belas hari aku disini. Waktunya untukku memulai. Masuk mobil. Menuju cafe.
Memesan. Dan menunggu dua orang yang selalu merumitkan hidupnya sendiri.
Rasti datang.
”mengapa menyuruhku
datang?” tanya Rasti.
“Cuma ingin menyudahi sesuatu.”
“apa?”
Terlihat Nicky datang
dari kejauhan.
“mengapa tak bilang
kalo ada dia disini?” Rasti tak henti bertanya.
“karna kau tak
tanya.” Jawabku.
“aku mau pulang.” pintanya.
“kau pulang dan kau menyesal. Atau
kau lebih dari sekedar penyecut(?) duduklah!”
Dia hanya terdiam dan
duduk kembali. Aku memulai pembicaraanku.
“maaf sebelumnya
atas undanganku yang mendadak ini. Jika hubungan kalian jadi begini karna aku,
aku minta maaf...”
“aku sudah lelah
dengar kata maaf.” Rasti memotong.
“kau harus bangga
dengar kata maaf ini. Karna tak ada yang minta maaf saat hubungan keluargaku
berantakan. Aku tak bisa salahkan siapapun termasuk diriku karna aku tlah
lelah. Jika kalian tak bisa besama lagi. Yasudah. Aku pun tak bisa berbuat
apa-apa, kecuali kalian mau membuka hati dan berharap Tuhan berikan yang
terbaik. Aku juga tak mau membebani siapapun. Ras, aku sangat menyayangimu
sebagai sahabat kecilku yang selalu mengerti aku. Tapi mungkin sekarang tak
lagi, tapi kau tetap kusayangi. Dan Nicky, aku tak suka lagi padamu, biarpun
perasaan ini masih ada, itu tak sebesar dulu dan itu juga hanya bayang-bayang
kecil. Jangan kau anggap itu terlalu serius. Semoga kita semua bisa lebih
bahagia setelah hari ini.”
Rasti langsung
memelukku. Tak lama, ponselku berdering. Mama memintaku pulang.
Aku kembali memeluk
Rasti yang bergelinang air mata itu. Setelah itu, aku angkat jemari ini seraya
mengajak Nicky bersalaman.
“mengapa seperti ingin bepisah,
Nan? Liburanmu kan masih panjang.”
“kita tak berpisah, Ras. Cuma, hari
ini rasanya aku ingin melampiaskan semuanya.”
“terima kasih untuk hari ini, Nan” ucap
Nicky.
“ya, aku sayang kalian. Aku harus
pulang. Sampai jumpa lagi.” Aku cuma tersenyum.
Keesokan harinya...
Aku
Cuma ingin menemani mama hari ini. Mama bertanya mengapa aku menolak ajakan
Rasti hari ini. Aku terseyum sambil menyodorkan sebuah tiket pesawat dengan
jadwal penerbangan besok pagi.
“kapan kamu memesan ini, nak?”
“oh iya, Nanda lupa bilang. Nanda
sudah memesan tiket pulang-pergi, ma. Hari ini biarkan Nanda bersama-sama mama.
Besok pagi antar Nanda ya, ma. Jangan beritahu Rasti dan Nicky kalo besok Nanda
pulang. Setelah Nanda berangkat baru mama boleh memberitahu mereka. Janji?”
“Nanda...”
“Janji ya, ma? Banyak tugas kuliah
yang harus kukejar demi masa depan.”
“iya, nak. Mama janji.”
Senyuman indah itu terlukis diwajahnya.
Hari ini terasa begitu
cepat berlalu. Besok pagi-pagi benar aku harus segera di bandara. Kumatikan
ponselku. Aku tertidur pulas.
**********
Hari ini aku pulang,
hari kedua puluh. See you, Bandung. Good bye, memories. Kupeluk erat mama.
Kucium lembut tangannya. Dia menangis. Mungkin tak pernah menyangka secepat
ini. Perjalanan gila ini membuatku harus beristirahat setelah sampai dirumah sana.
Dua puluh hari dengan suka duka. Cinta(?) Apa itu? Nantilah! Bukankah Tuhan
tlah siap dengan seluruh takdir-Nya untuk ciptaan-Nya. Jangan takut! Jangan
bersedih! Jangan pula khawatir! Karna Allah selalu bersamamu.
Cerita singkat ini menjadi perjalanan empat tahun masa sekolahku, tak
perlu dijelaskan. Hidup itu maju dan terus berputar. Jadi lebih baik itu
impian, tapi berusahanya itu yang jadi tujuan. Tak semua orang bisa
melakukannya. Dia yang tak kenal lelah yang sanggup. Berdirihlah! Kokohlah! Tegarlah!
Dan larilah! Sampai kau lelah dan berhenti untuk istirahat, lalu teruslah
berlari! Terus dan teruslah, sampai Allah bilang “kau harus berhenti dan
pulang”. Papa pernah bilang-hidup sederhana itu lebih baik dan patut
dibanggakan daripada hidup dengan segalanya namun tetap merasa kurang. Jangan
pernah takut pada siapapun, takutlah pada Allah! Mama juga pernah
menyampaikan-jangan terlalu cemaskan nasib masa depanmu. Cukup lakukan yang
terbaik. Allah tahu, kau tak selemah itu untuk dapatkan yang kau inginkan. Jika
memang tidak, mungkin rencana-Nya jauh lebih baik!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar