Minggu, 26 Juli 2015

Cerpen (lagi)

Assalamualaikum wr. wb.

gue ngepost cerpen yang part 2 dari judul cerpen "sedikit kebahagiaan". gue juga ga tau ya awalnya kenapa ngasih judul itu dan maknanya apa, ya happy happyan aja kale ya.. intinya gue suka nulis wkwk berharap nanti bisa bikin buku, ato karya gue bermanfaat buat para pembaca. ambil positifnya ya, yang negatif tolong pake banget ditinggalin hmm;;)

 

                         Sedikit Kebahagiaan
                                  Part 2


            Untuk liburan semester kali ini aku menyempatkan untuk liburan ke Bandung di tempat mama. Pagi yang cerah di negeri rantauanku. Aku membawa sebuah koper besar dan sebuah tas punggung menaiki tangga eskalator ke lantai atas. Aku sudah tak sabar ingin pulang ke negeriku untuk sementara waktu, menghabiskan liburan panjang seorang mahasiswi. Aku masuk ke pesawat, mencari tempat dudukku. Aku pun duduk dengan rasa gembira, aku mulai mencari posisi aman agar aku merasa nyaman selama perjalanan ini. Kuambil ponsel disaku jeansku, melihat apakah ada pemberitahuan, ya aku sudah tahu bahwa jarang sekali ponselku berbunyi. Karna hal itu, aku segera mematikan ponselku untuk sementara waktu. Aku mulai nyaman dan tertidur untuk beberapa saat. Aku memilih untuk duduk dipinggir agar dapat melihat keluar jendela. Berharap aku dapat melihat pemandangan indah walaupun hidupku tak seindah pemandangan yang kulihat. Sekitar empat jam berada dalam perjalanan ini, akhirnya aku sampai di negeri tujuanku. Aku bergegas keluar dari pesawat dan menyelesaikan semua urusanku dibandara dan tak lupa kuambil koperku. Aku tiba di Jakarta sekarang, pikirku. Selama hampir 2 jam kulanjutkan perjalananku dari Jakarta ke Bandung, ini terlalu lama bagiku. Ternyata masih sepikiran denganku, keadaannya masih sama. Lautan kendaraan memenuhi kota ini. Tiba di kota Bandung sekitar pukul lima sore, aku pun sampai dirumah mama. Aku turun dari taksi dan menurunkan semua barang-barangku. Aku mulai silau dengan sinar matahari dinegeri ini. Aku membuka pagar dan berjalan perlahan-lahan menuju ke depan pintu. Aku ayunkan jemariku ini dengan maksud ingin mengetuk pintu namun belumlah jemari ini sampai, pintu telah terbuka dengan sendirinya. Aku tahu ada seseorang dibaliknya-
            Aku melihat mama ada di belakang pintu dengan raut wajah bahagia menyambutku dengan hangat. Sudah lama sekali aku tidak melihat kebahagian yang mungkin datangnya hanya sesekali hingga menunggu keajaiban dari yang MahaKuasa. Mama tersenyum bahagia dan langsung menyambarku dan memelukku. Sudah sangat lama sekali ini tidak terjadi. Saat masa-masa kuliahku ini, aku hanya bisa menelpon mama satu minggu sekali. Bahkan kami sangat jarang sekali bertukar pesan. Bukan mama yang salah, tapi aku yang putuskan untuk hidupku. Aku tahu ini mungkin hal yang tidak wajar bagi seorang anak perempuan dan ibunya. Seperti tidak ada kedekatan spiritual. Pembantu dan supir kesayanganku pun ikut hadir menyambutku. Aku merasa sangat senang. Mama mengajakku ke meja makan. Mungkin dia tahu bahwa anaknya ini telah kelaparan dari empat jam yang lalu. Dan benar-benar seperti perkiraanku, kami benar-benar makan bersama. Disaat yang seperti inilah yang aku sangat-sangat rindukan. Apa gunanya punya banyak harta yang bergelimpah namun hati ini tetap sepi tanpa diisi dengan kebahagiaan. Saat makan, mama mengatakan bahwa telah memberitahu Rasti bahwa hari ini aku akan pulang untuk liburan. Rasti tahu aku pasti akan sangat lelah. Akhirnya, dia bilang pada mama bahwa besok dia akan datang kerumah untuk menjemputku dan mengajakku jalan-jalan. Dia juga bilang pada mama bahwa dia ingin mengajakku ke taman rekreasi terbaru di Bandung. Yah sebenarnya aku lega ternyata Rasti sangat merindukanku juga. Aku dengan sengaja jarang menelepon atau bertukar pesan dengan Rasti. Aku tidak ingin teringat dengan masa laluku yang juga ada kaitannya dengan Rasti. Karna itu pasti akan sangat membuatku sedih.
            Setelah selesai makan dan berbincang-bincang dengan mama, aku menuju kekamarku dilantai dua. Sudah hampir setahun lebih aku tidak menginjakkan kakiku disini. Akhirnya aku dapat kembali walaupun hanya untuk beberapa saat. Aku masuk kamar, membersihkan tubuhku dan mengganti pakaianku. Aku berdiri di balkon dan melihat pemandangan disekeliling komplek rumah mama. Tetap seperti dulu pikirku, tetap asri. Aku mulai mengenang masa-masa terakhirku disini waktu itu. Tiba-tiba aku teringat pada.... Nicky-
            Kuhapus semua lamunanku itu. Aku pun berjalan ke tempat tidur dan menghempaskan tubuhku diatas tempat tidur. Kuberikan masukkan dan semangat pada diriku sendiri bahwa aku harus segera tidur dan melupakan semua kelelahan hari ini. Alhasil, aku pun dapat tertidur pulas, walaupun aku tahu dan aku dapat merasakan secercah rasa yang diam-diam masih bertunas dalam hati ini dan aku juga tahu bahwa sampai kapan pun aku tidak dapat melepaskan rasa itu meski aku berlari sampai ke sisi sudut dunia ini.
*
            Sinar matahari pagi menyusup diantara celah jendela. Aku perlahan terbangun dengan sedikit demi sedikit membuka mataku. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 6.30. Aku terkejut dan bergegas bangun dari tempat tidurku. Aku berlari mengambil handukku dan menuju kamar mandi. Tak beberapa lama, aku sudah selesai dan mengenakan pakaianku yang bersih. Aku turun dengan berlari-lari kecil menuju dapur. Berharap ada sesuatu yang dapat kumakan untuk sarapan pagi ini. Aku merasa sangat-sangat lelah dengan perjalanan kemarin. Akibatnya aku lampiaskan semuanya pada tidur panjangku tadi malam. Aku menemukan mama dengan setumpuk pekerjaannya didapur bersama bi Minah yang sedang mencuci piring. Begitu banyak pekerjaan mama yang tertumpuk di atas meja makan. Aku mengucapkan selamat pagi pada semua yang ada didapur. Mereka pun sontak saat melihatku langsung tersenyum. Aku membuka tudung saji dan melihat roti dan selai coklat. Hmm lumayan enak pikirku untuk sarapan pagi pertamaku di Bandung.
            Sambil mengunyah makanan, sambil itu pula mama menanyaiku tentang banyak hal. Mulai dari studyku sampai masalah perasaanku. Namun, saat mama bertanya tentang siapa pacarku saat ini. Aku hanya bisa diam, aku sedikit menunduk. Lalu mama langsung berkata lagi, “mama sudah tahu yang sebenarnya”, sambil tetap mengayunkan penanya mengerjakan berbagai pekerjaan kantornya. Semenjak aku pergi, mama merasa sangat kesepian, Rasti sering kesini. Dia sering membawakan mama makanan dan selalu bertanya kapan aku pulang. Tapi mama berkata padanya bahwa mungkin akan sangat lama. Rasti tampak sedih. Walaupun mama sedih, untunglah ada Rasti yang sering berkunjung kerumah ini. Dia temanku yang sangat baik. Dia bilang kalau aku punya masa lalu dengan Nicky. Dan sudah pasti mama tahu bahwa itu bukan masalah biasa, melainkan masalah perasaan. Aku pun hanya menjawab semua pertanyaan mama dengan sebuah senyuman. Aku harap itu cukup untuk menyampaikan semua yang aku rasa.
“Awalnya mama tidak yakin dengan keputusanmu untuk berkuliah di luar negeri. Mama tau ini mungkin sulit bagimu menghadapi masalah ini sendirian tanpa kakakmu. Karna keegoisan mama dan papa akhirnya kamu jadi begini. Bahkan untuk urusan perasaanmu saja mama tidak tahu apa-apa” ucap mama.
            Aku lihat air mata itu. Air mata  yang mengalir di pipi mama. Aku berdiri dari tempat dudukku dan memeluk erat mama dari belakang tubuhnya. Sambil terus berkata dalam hati agar mama tidak khawatir dengan diriku ini yang bisa menjaga diri. Aku sudah terbiasa dengan semua ini. Aku kuat. Aku bisa melewati semua ini dengan semua keajaiban yang telah Tuhan berikan padaku.
            “Mama jangan sedih bahkan menangis seperti ini. Aku baik-baik saja. Aku kuat” pintaku. Mama pun menghapus air matanya sambil melanjutkan perkataannya. “Rasti sudah beritahu mama soal kamu dan Nicky. Maafkan mama, mama bukanlah ibu yang baik bagi Nanda”.
            Aku melepaskan pelukanku dan kembali ke tempat dudukku. Aku tahu pasti Rasti telah menceritakan semuanya dengan mama. Yah rasa lega bercampur bingung menyelimuti hati ini. Aku terdiam lalu bibir ini pun berucap, “yang lalu biarlah berlalu. Aku bukanlah yang dulu, aku selalu ingin jadi penyemangat bagi orang yang kusayang. Tidak perlu mengkhawatirkanku”, ucapku.
            Mungkin ini terlalu egois bagiku. Namun kupikir kata-kataku tadi telah menjelaskan semuanya pada mama. Mama pun tersenyum mendengar perkataanku. Aku lega dan ikut tersenyum. Aku bangga pada diriku sendiri karna aku tetap kuat bahkan sampai titik tenggelamnya jiwaku ini. Aku pun ikut tersenyum manis pada mama. Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu mamaku yang sangat aku sayangi. Aku tahu engkau terpuruk dengan kepergian kakak dan persoalanmu, tapi yakinlah aku selalu ada untukmu untuk selalu menopangmu walaupun kau tak pernah selalu ada untukku. Aku akan selalu jadi balok yang kokoh yang siap menopang rumah tua meski gersang dan badai datang menghampiri duniamu. Sama seperti aku menopang sahabat terbaikku bersama orang yang kusayang.
            Aku melanjutkan sarapanku. Aku seneng karna sedikit kebahagiaan lagi mulai dihari-hari berhargaku. Roti isi selaiku telah habis kulahap, mungkin aku begitu lapar dengan semua kebahagiaan ini. Melihat aku yang begitu tenang dan sangat ceria. Lebih tepatnya lebih ceria dari keterpurukanku dulu. Mama menyuruhku bersiap-siap karna sebentar lagi mungkin Rasti akan menjemputku. Aku terkejut, dengan spontan aku langsung meminum tehku dan bergegas kembali ke lantai atas menuju kamarku untuk mengganti pakaian yang mungkin lebih pantas untuk bertemu orang yang sangat kurindukan, sahabatku.
            Selang beberapa menit, aku telah siap dengan fisik dan mentalku. Mama pun terkejut melihat dandananku yang terlihat memang sudah dewasa. Kami pun saling menatap lalu berpelukan. Kali ini aku sekali lagi merasa sangat-sangat bahagia. Terima kasih Tuhan.
**  
            Tak beberapa lama menunggu, ponselku berbunyi. Rasti menelponku memberitahukan bahwa dia telah menunggu didepan rumah. Aku pun berkata pada mama bahwa Rasti telah sampai, mngkin dia tidak ingin mampir. Rasti pasti berpikir bahwa mungkin akan menghabiskan beberapa menit untuk singgah sebentar sementara ada banyak tempat yang ia ingin tunjukkan padaku. Aku pun berpamitan pada mama. Mama mengantarku sampai ke depan pintu.
            Aku terus berjalan tanpa ragu menuju ke mobil yang Rasti naiki sekarang. Kaca mobil yang dibuka Rasti pun dapat membuatku mengenali siapa yang mengemudikan mobil itu. Aku tersenyum pada Rasti. Terburu-buru aku masuk ke mobil. Kubuka pintu mobil tanpa ragu. Setelah aku menaiki mobil, kubuka sedikit kaca mobil dan melambaikan tanganku sekali lagi agar mama dapat melihat anak gadisnya ini kuat. Mobil pun perlahan bergerak. Aku hanya bisa terdiam didalam mobil sampai Rasti terlebih dahulu menegurku.
“Nandaaaaaa.. tahukah kamu? Aku sangat merindukanmu. Mengapa kamu jarang sekali membalas pesanku” ucapnya.
            Aku pun tersenyum.
“iya Rasti, aku juga sangat merindukanmu. Maafkan aku Ras, banyak sekali tugas yang harus kukerjakan sehingga aku tak sempat untuk membalasnya. Bagaimana kabarmu?” tanyaku.
“yasudahlah tidak apa-apa. Yang terpenting sekarang kita telah bertemu. Aku dan Nicky akan membawamu kemana pun kamu mau selama liburanmu ini”, ia tetap menampakkan senyum kebahagiaannya itu.
“iya Ras. Terima kasih ya. Te..rima kasih juga Nic” sontak aku langsung terdiam.
“sama-sama Nan. Anggap saja ini sebuah reuni sahabat”., jawab Nicky.
            Aku pun hanya tersenyum. Benar juga, Nicky hanya menganggapku sahabat. Tapi mengapa perasaan ini tiba-tiba bertunas kembali? Aku mungkin yang salah. Aku tidak boleh berpikir seperti ini. Nicky hanyalah milik Rasti. Mereka saling mencintai. Walaupun aku sering mendengar kabar bahwa mereka sering bertengkar untuk jangka waktu yang lama. Nicky yang terkadang terlalu sibuk membuat Rasti seringkali tidak mendapatkan kabar darinya. Namun, mereka tetap baikan dan selalu bersama. Aku senang berada diantara orang yang kusayangi. Selama perjalanan menuju tempat rekreasi, mereka sering bercanda. Rasti terlihat sesekali tertawa lebar dan aku bisa merasakan kebahagiaan Rasti. Nicky pun tak segan-segan menyuguhkan lelucon lucu yang mengocok perut. Aku pun terkadang tertawa walau tak bisa seperti Rasti. Kupikir sedikit demi sedikit ini akan menjadi lebih baik.
            Sampai di tempat rekreasi, kami pun mulai bermain permaianan disana. Rasti terlihat sangat bahagia. Sesekali dia menggandeng tanganku dan Nicky. Dia tepat berada ditengah-tengah kami. Sulit untuk mengungkapakan perasaanku karna ini merupakan sesuasana yang mungkin tidak akan terjadi sekali lagi. Kami bertiga tetap tertawa dengan kesenangan kami hari ini.
Karna merasa sangat lelah, akhirnya aku berkata pada Rasti bahwa aku ingin pulang dan mungkin rekreasinya bisa dilanjutkan besok. Waktu telah menunjukkan pukul 6 sore. Matahari semakin redup digantikan dengan bayangan malam yang begitu gelap. Sebelum pulang, kami makan malam terlebih dahulu. Setelah selesai makan, karna Rasti ingin cepat-cepat pulang karna mamanya menelpon untuk segera pulang. Akhirnya, kami mengantarkan Rasti terlebih dahulu pulang kerumahnya. Rasti meminta maaf karna mamanya menelpon diluar dugaannya. Aku pun mengerti jika mungkin ada sesuatu yang lebih penting yang harus dilakukan Rasti dibandingkan mengantarkanku pulang.
Setelah mengantarkan Rasti, tersisa hanya aku dan Nicky didalam mobil. Nicky pun memintaku untuk duduk disampingnya. Aku pun mengiyakan. Aku pindah posisi ke depan, disamping Nicky. Sepanjang perjalanan aku hanya diam sambil memainkan ponselku. Nicky pun memulai pembicaraannya.
“Nan, bagaimana studymu disana?” tanya Nicky.
“oh, baik-baik saja” ujarku.
“apakah kau merasa senang disana? Tidakkah kau ingin pulang?” tanyanya lagi.
Aku terdiam lalu melihat kearahnya yang terlihat serius bertanya sambil menyetir mobil.
“ya aku sangat senang berada disana. Aku tidak bisa memastikan kapan aku pulang. Aku mungkin akan menetap disana beberapa lama lagi” jawabku dengan tenang.
“sebelumnya, aku berpikir tidak akan bertemu denganmu lagi sejak kau memutuskan untuk berkuliah diluar negeri. Tapi tidak kusangka ternyata kita akan bertemu lagi walaupun dipisahkan waktu yang cukup lama, kira-kira satu tahun lebih”, jelasnya.
“ah aku tidak berpikir jika kau akan berpikir seperti itu, Nic. Aku cuma ingin mencari suasana baru”, kataku.
“bisakah kita seperti dulu lagi?”, tanyanya.
“hah?” aku sedikit terkejut.
“ahh sudahlah tidak usah dipikirkan lagi. Oh iya, nanti kalau aku menelpon ataupun ada pesan dariku tolong dibalasnya” pintanya.
“iya” jawabku sambil mengangguk.
            Tak terasa obrolan kami pun ternyata sampai pada aku tiba didepan rumahku. Aku mengucapkan terima kasih padanya. Aku keluar dari mobil. Aku berdiri disamping mobilnya, lalu dia membukakan kaca mobilnya sambil mengklakson yang mengisyaratkan bahwa dia berpamitan. Aku pun hanya bisa melambaikan tangan dan tersenyum kecil.
            Mobilnya tak kelihatan lagi pikirku. Aku pun melangkah membuka pagar dan sampai didepan pintu. Aku pun mengetuk pintu dan ternyata bi Minah yang membukakan. Aku masuk kedalam rumah. Aku bertanya pada bi Minah dimana mama. Bi Minah menjawab kalau mama sudah tertidur. Aku tahu pasti mama sangat lelah dengan sekian banyaknya tugas yang harus dikerjakannya. Aku pun naik ke lantai atas dan mengganti pakaianku dengan piyama tidur. Aku memikirkan hari keduaku di Bandung yang mungkin tidak akan kulupakan. Aku berada diatas tempat tidur sambil melihat langit-langit kamarku. Lalu tak lama aku pun tertidur. Sungguh hari yang menyenangkan bersama Rasti dan Nicky.
***
            Tak terasa sudah satu minggu aku berada di Bandung, liburan bersama mama dan kedua sahabatku. Setelah mungkin hampir lima hari kami berekreasi, dan kemarin kami tidak pergi bersama karna aku menemani mama pergi jalan-jalan ke mall. Tapi untuk hari ini, kami pasti pergi bersama-sama kembali. Rasti berencana ingin menonton film aksi yang baru saja tayang di bioskop terdekat. Aku hanya menurut saja. Bagiku, tidak ada kelebihan yang bisa aku lakukan untuk menyenangkan hati Rasti selain ini.
            Seperti biasa, mobil hitam itu selalu menjemputku setiap pagi. Namun, kali ini ternyata tidak ada Rasti disana. Aku bertanya dalam hati mengapa tak ada Rasti. Mengapa Rasti tidak ikut? Ya sudah kuduga, Nicky pasti tahu apa yang kupikirkan. Dia hanya berkata padaku seolah-olah menjawab semua kegelisahanku.
“tiba-tiba saja tadi pagi Rasti meneleponku. Dia tidak bisa ikut pergi menonton bioskop dengan kita karna ada suatu hal penting yang mendadak di kampusnya. Dia mencoba menghubungimu tapi katanya ponselmu tidak aktif. Dia bilang jika kita ingin pergi, pergi saja tanpa dia. Karna aku merasa tak enak padamu, jadi biarkan kita pergi menonton berdua”, jelasnya.
“emm.. oh iya ponselku memang tidak aktif. Ya tenang saja, aku tidak apa-apa jika hanya berdua” jawabku.
“kau tidak perlu merasa gugup didekatku”, pintanya.
Aku langsung saja terkejut mendengar perkataannya. Apa sebenarnya maksud dari semua ucapannya? Apa dia mencoba mempermainkanku? Aku tidak semudah termakan olok-olokannya.
“ah.. apa yang kau bicarakan? Aku sama sekali tidak gugup” sahutku.
“apa benar? Tapi aku merasa masih ada sebuah akar yang ingin tumbuh kembali seperti dulu layaknya tanaman subur yang ingin hidup bebas” Nicky mulai serius.
Aku tahu maksud perkataannya. Aku tetap mencoba mengalihkan perkataannya.
“a..a..apa yang kau katakan? Jangan bercanda! Menyetirlah dengan baik” aku pun terpaksa bicara.
Aku harap semua yang kuucapkan tidak akan mengubah semuanya. Tidak akan mengubah pandangan Nicky terhadapku. Aku hanya ingin bahagia, hanya itu saja. Pikiranku terus terpusat padanya. Aku tahu itu adalah perbuatan yang seharusnya tak pernah  kulakukan.
            Aku mungkin terlalu banyak memikrkan sesuatu yang tak penting hingga ternyata kami telah sampai di mall. Setelah Nicky selesai memarkirkan mobilnya, kami pun turun berdua. Kami berjalan berdampingan menuju bioskop. Sampai di bioskop, aku hanya menunggunya yang sedang mengantri tiket. Setelah mendapatkan tiket, kami pun langsung memasuki ruangan teater. Aku duduk berdampingan dengannya. Hanya kami berdua, tanpa Rasti. Apakah ini pantas? Aku pergi dengan kekasih sahabatku sendiri. Ini wajar pikirku. Tapi.. mungkin ini bisa jadi tidak wajar karna ada yang bertunas dihati ini.
            Selesai dari menonton, Nicky pun mengajakku makan bersama. Kami makan disebuah restoran Jepang. Aku senang tapi disisi lain aku juga heran mengapa sikap Nicky begitu aneh padaku. Kami pun mulai memesan dan tak beberapa lama kemudian pesanan kami telah dihidangkan. Aku mulai mengambil sumpit dan memakan satu per satu makanan yang kupesan. Nicky hanya terdiam dan menunduk serta memainkan sumpitnya. Dia mulai bercerita padaku.
“kemarin saat kita tidak pergi bertiga, aku bertengkar dengan Rasti” ujarnya.
Aku pun berhenti makan dan melihat kearahnya. Nampaknya ia sangat sedih. Aku tahu dia sangat mencintai Rasti. Dia masih tidak melihatku. Namun, aku terus memandanginya sambil berusaha ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“memangnya kau ada masalah apa dengan Rasti?”, tanyaku.
“hubungan ini memang sudah sejak lama sering memiliki masalah. Aku pun tak mengerti apa penyebabnya. Kau tahu? Kami pernah putus beberapa kali dan kemudian kembali lagi. Walaupun sudah menginjak dua tahun lebih tapi tetap saja begini”, jawab Nicky dengan serius.
“emm jadi apa yang mungkin bisa kubantu?”, aku tetap ingin tahu. Dan aku pun mulai melanjutkan melahap makananku.
“aku tidak tahu apa perasaanku yang sebenarnya pada Rasti. Selama ini aku hanya mencoba”, jawab Nicky.
Mendengar perkataanya itu, aku tersendak dan batuk. Aku langsung minum air dan segera bertanya kembali apa maksud Nicky.
“men...mencoba? maksudnya?
“aku mencoba sesuatu yang baru dengannya. Dengan begitu, aku harap dapat melupakan cintaku yang dulu. Tapi mungkin aku salah. Aku telah menyia-nyiakan orang yang dengan tulus mencintaiku, selalu saja disisiku, namun aku tidak mau membuka hatiku padanya” jelasnya.
Sisi lain dari diri ini mulai mencari kebenarannya. Menganggap seluruh hal disekitarnya hampa. Hanya hatinya sendiri. Diam. Terpaku pada sesuatu yang tak kunjung menghampiri. Harapan yang tak luput dari penyesalan selalu menghantui bagai lonceng yang selalu berbunyi.
“cinta.. cinta yang dulu? Sebenarnya apa yang kamu bicarakan, Nic? Aku benar-benar tak mengerti”, aku mulai cemas.
“aku tahu kamu pasti mengerti Nan. tapi mungkin kamu harus pikirkan perkatanku tadi berulang-ulang” jawabnya.
Akupun heran sambil terus menatapnya dengan tatapan seperti anak kecil yang tak mengerti apapun. Aku berharap ini hanya sebuah mimpi.
****
            Perjalanan hari ini sungguh membuatku lelah. Aku hanya bisa menatap langit-langit kamarku. Diperjalanan pulang tadi, Nicky meminta nomorku. Aku hanya bisa bilang iya dan memberikannya. Apa maksud dari semua ini? Mengapa liburanku harus seperti ini? Apa ini skenario yang telah Tuhan berikan untukku? Benar-benar tidak kusangka akan terjadi begitu cepat. Skenario yang telah disusun sedemikian rupa untuk makhluk ciptaan-Nya.
            Habis lamunanku, habis pula pandanganku ke langit-langit kamar. Disaat itulah ponselku berbunyi. Ada sebuah pesan dari nomor yang tak kukenal. Aku bisa menebak jika itu pesan dari Nicky tapi aku tetap berusaha mengontrol diri. Aku yakinkan diriku jika itu bukan pesan dari Nicky. Tapi ternyata aku salah, pesan itu memang dari Nicky. Apa yang harus kulakukan? Pura-pura tidak tahu? Ya, kau harus pura-pura tidak tahu saja. Semakin sikap ketidaktahuanku menguat bak benteng pertahanan, semakin itu pula dia datang menghampiri seperti ingin menyerangku. Tak bosannya, dia malah menelponku yang tak kunjung membalas pesannya.
            Obrolan ini cukup singkat. Aku tak mau berharap lebih. Aku tak mau tersakiti lagi. Aku tak mau jika rasa ini bertunas kembali. Aku tak bisa berpura-pura. Alhasil, aku pun dengan berat hati membalas pesannya. Tak apa, anggap saja ini sebuah kecerian sesaat. Andaikan dia tahu, seberapa besar rasa ini padanya. Dari dulu sampai detik ini. Mungkin jarakku jauh tapi hatiku tetap dekat bersamanya. Aku tahu jika aku salah harus menyimpan rasa cintaku ini pada orang yang salah. Tapi siapa yang harus kusalahkan? Rasaku padanya? Tak mungkin, setiap manusia pasti bisa merasakan cinta dan kasih sayang yang diciptakan Tuhan. Jadi, apakah aku harus salahkan Tuhan karna telah membuat perasaan ini? Aku mungkin sangat hina bila aku lakukan itu. Tak ada yang bisa kusalahkan. Biarkan rasa ini mengalir dengan sendirinya. Biarkan diri ini terajut rasa bahagia yang sejak dulu ingin kumiliki.
            Tahukah dia, sejak dulu aku mencoba beranjak untuk bangun dari rasa ini tapi tetap tak bisa. Sampai kapan aku harus begini. Selalu ingin tahu tentangnya. Selalu merasa senang bila ia senang melihat keceriaanku. Selalu mencibir sikapnya yang kadang mengomentariku walaupun sebenarnya kenyataan berbicara lain, aku senang.
*****
            Hari ke hari, kami terus berjalan bersama tanpa Rasti. Rasti mendadak harus terus fokus terhadap kuliahnya yang terlalaikan. Dia meminta maaf denganku dan meminta Nicky untuk terus menemaniku selama liburanku. Aku tak mengerti jalan pikiran orang-orang disekitarku. Aku tetap menganggap ini hiburan selama liburanku. Aku mungkin tak kan mendapatkan hal ini untuk kedua kalinya. Disamping itu, siapa sangka ternyata aku sudah hampir satu bulan di Bandung. Aku semakin sering bertukar pesan dengan Nicky dan Rasti. Dan lebih banyak pesan untuk Nicky dibandingkan Rasti. Rasti terlalu sibuk dengan kuliahnya.
Kupikir ini adalah awal kebahagiaan, tapi ternyata aku salah. Aku terus menerus salah. Nicky dan Rasti mengakhiri hubungan mereka. Aku tak tahu sebabnya. Dia menelponku. Sepulang pembelajaran di kuliahnya, Rasti memintaku untuk menemuinya. Aku yang tak tega mendengar suaranya yang sedih langsung bergegas menemuinya. Di sebuah cafe bernuansakan kota Paris menjadi saksi bisu luapan air matanya. Aku yang hanya bisa mendengar celotehan dan semua ceritanya terus menerus berkata sabar sambil menopangnya. Dia menangis dengan sendunya. Sekali lagi, aku merasa bersalah karna aku hanya bisa berbuat begini tanpa ada hal lebih. Dan aku berpikir, alangkah buruknya Nicky, mengapa dia dengan mudahya melepas Rasti.
Karna tak sanggup melihat keadaan Rasti yang seperti itu, aku berinisiatif untuk mengantarnya pulang. Aku berharap dia dapat menenangkan dirinya dahulu dirumah. Setelah dia sampai dirumahnya, barulah aku pulang dengan taksi yang sama yang mengantarkan Rasti pulang. Di taksi, pikiranku tak enggannya mau berubah. Tetap ingin memikirkan Rasti yang sedang sedih. Aku tahu disaat-saatku seperti itu, tak ada yang menopangku. Aku hanya bisa menyimpannya sendirian dan sekarang ternyata aku lebih sakit jika orang terdekatku merasakan apa yang pernah kurasa. Cukup diriku saja yang menderita. Jangan orang tuaku, jangan pula sahabatku.
******
            Malam harinya...
            Tak ada satu pesanpun diponselku. Aku yang bosan terus mendengarkan lagu sampai mama mengetuk pintu kamarku.
“Nan, Nanda, apa kamu sudah makan, nak?,” tanya mama.
Aku cuma bisa menjawab dari dalam tanpa membukakan pintu untuknya. Tak apalah pikirku.
“sudah ma, tadi sore aku sudah makan dengan Rasti. Dan sekarang aku hanya ingin tidur.” jawabku.
“baiklah. Semoga mimpi indah ya, Nan.” harap mama.
Aku hanya diam dan tak menjawab apapun. Aku mematikan lampu kamarku dan segera tidur. Aku harap mama telah menjauh dari kamarku.
            Aku menutup diriku dengan selimut lembut. Sambil terus memikirkan Rasti dan Nicky. Aku berharap dan memohon pada Yang Maha Kuasa agar tak terjadi sesuatu yang buruk dengan keduanya. Dengan memejamkan mata, tak lama dari itu aku tertidur dengan pulas hingga pagi datang menyongsong.
*******
            Tak ada yang mengajakku pergi hari ini. Aku tahu mereka berdua pasti masih merasa sedih satu sama lain. ponselku tetap sunyi. Aku hanya tinggal diam dirumah sambil menonton tv dan mendengarkan lagu favoritku.
Siangnya, aku tertidur lelap di sofa didepan tv. Mama yang melihatku tertidur waktu itu, datang menghampiri berusaha membangunkaku untuk pindah ke kamar. Sayangnya, aku terlalu letih untuk bangun hingga hari telah sore.
Jam dinding di ruang itu membuatku terbangun. Waktu telah menunjukkan pukul lima sore. Aku duduk sejenak mengambil nafas dan aku siap berlari menuju kamar mandi. Aku harus membersihkan tubuhku. Setelah ritual mandiku yang hampir sejam, aku sudah siap menonton tv dengan mengenakan baju tidurku. Tapi rencanaku gagal, ponselku yang sepi pun berbunyi. Pesan singkat dari Nicky menghampiri.
Betapa terkejutnya aku setelah bertukar pesan dengan Nicky. Aku tahu yang sebenarnya. Aku makin bertambah merasa bersalah. Aku masuk ke kamarku dan mulai bertukar pesan singkat dengan Nicky. Bisa  kutebak jika ada sesuatu yang menggenjal pikiranku. Dia telah putus dengan Rasti. Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa mendengarkan semua ceritanya. Membosankan jika hanya bisa mendengar tapi tak bisa memahami.
Mereka terlibat beberapa masalah, dan mungkin aku salah satu masalah mereka. Sangat tidak enak menjadi beban orang lain. Aku suka mereka, pasangan yang serasi walaupun aku tak bisa seperti mereka. Bagiku, menatap mereka bersama seolah-olah aku sudah seperti mereka. Apa yang perlu kurisaukan? Aku takut kehilangan Nicky? Tidak, Rasti ada bersamanya. Selalu menjaga Nicky. Pasti sekarang Nicky merasa sangat-sangat sedih. Rasti memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Apa yang salah dari hubungan mereka? Mereka dekat, saling memberi kabar, saling mengasihi, apa lagi yang kurang dari tali kasih mereka? Pertanyaan datang bertubi-tubi dipikiran ini. Aku mungkin tak tahu alasannya tapi secepatnya aku akan tahu jawabannya.
********
            Sama seperti dua hari yang lalu, tak ada yang mengajakku pergi keluar. Jika aku hanya pergi sendiri, mungkin akan sangat membosankan berjalan sendirian ditengah keramaian. Aku memutuskan untuk tetap dirumah, ditemani cemilan dan sebuah kotak idiot yang kusebut televisi.
            Aku bosan dengan kegiatan ini. Aku coba membuka jejaring sosial, tempat dimana orang bisa menulis cerita, sindiran, dan curahan hati mereka, ya twitter. Terlihat jelas sekali tweet Rasti yang berisikan cemoohan yang sepatutnya tak harus diungkapkan. Aku pun mencoba mengutip kata-katanya sambil membalas apa maksudnya. Tapi jawabannya membuat dada ini merasa sesak. Aku cuma bisa terdiam. Kupikir dalam-dalam, apa mungkin liburanku ini salah? Seharusnya aku tidak perlu repot-repot pulang untuk liburan ke Bandung. Toh di negeri rantauanku lebih menarik dan banyak sekali tempat-tempat yang bisa dikunjungi. Tapi aku malah memilih pulang. Aku rindu suasana rumah. Tapi apakah aku tidak dirindukan seperti aku merindukan mereka. Aku menutup ponselku dan berbaring diatas sofa, kuambil cemilanku perlahan lalu memakannya. Aku masih shock.
Malam harinya...
            Apa ini? Pesan singkat dari Nicky lagi. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa seolah-olah membelitkan hidupku? Mengapa dada ini seolah-olah kembali sesak? Lalu mengapa tunas dalam hati ini semakin tumbuh? Apa mungkin ada yang salah dari diri ini?
            Banyak hal yang diceritakan melalui pesan singkat ini selama hampir dua jam sebelum aku memutuskan untuk terlebih dahulu tidur. Tidak mungkin sekali Nicky menjadikanku pelarian disaat-saat ia dan Rasti dalam hal sulit. Aku yakin Nicky hanya ingin menceritakan semua keluh kesahnya. Tak apa, aku tetap menjadi penopangnya. Dan perasaan ini semakin tumbuh subur bak pohon yang siap tumbuh kokoh.
Tiba-tiba, sebuah pesan singkat dari Rasti muncul di pemberitahuan ponselku. Dia mengajakku bertemu besok disebuah cafe tempat kami biasa bertemu. Pesan itu sangat singkat, jelas dan menunjukkan betapa keras perasaannya. Aku hanya menjawab iya. Namun, tak ada balasan lagi darinya. Itu sudah cukup bagiku, aku telah mengetahui jawabannya tanpa ia beritahu.
Paginya...
            Aku telah siap untuk rencana hari ini. Rasti pasti sedang dalam perjalanan ke tempat yang akan kami tuju. Tas jinjing ini sudah siap menemaniku hari ini. Semoga hari ini aku beruntung, pintaku dalam hati. Sesampainya di cafe Paris, aku melihat kiri dan kanan ku, kalau-kalau Rasti sudah muncul. Dia yang melihatku juga, langsung melambaikan tangannya padaku. Aku pun menghampirinya dan segera duduk. Dua cappucino telah menemani kami. Kami duduk berdua, bercerita dengan seriusnya, sesekali tertawa, sesekali juga kembali serius dengan mata yang berkaca-kaca. Cukup banyak yang kami bicarakan hingga waktu telah menunjukkan pukul tiga sore. Aku yang harus pulang pun sesegera mungkin pamitan dengan Rasti.
Malam harinya, aku mendapatkan pesan dari Nicky. Entah mengapa semakin lama bertukar pesan, suasana pun semakin memanas. Hingga akhirnya aku tak membalas pesannya lagi. Satu hal yang tak dapat kumengerti-
“Kamu itu tidak tahu apa-apa, Nan.
Kamu itu jauh, kamu tak kan mengerti aku dan Rasti.
Jadi, orang seperti kamu itu jangan sok tahulah”.
            Kutipan pesan terakhirnya yang sangat meresahkan diri ini. Nicky benar-benar berubah. Seperti cerita Rasti tadi siang yang beberapa dari ceritanya yang tak mampu kuperkirakan sebelumnya.
            “Dia sudah berubah. Bahkan yang kusebut cinta itu tak lagi kudapati. Bagaikan burung yang punya sarang baru. Ketiadaanmu itu perih. Tapi keberadaanmu itu juga merupakan cambuk bagiku”.
            Kucoba resapi makna dari kalimat-kalimat dua sejoli itu. Bahkan sampai kepalaku tak dapat lagi memikirkan solusinya, aku pun terlelap.
*********
            Satu minggu kemudian....
            Untuk yang kesekian kalinya aku bertemu Rasti di cafe Paris. Sesampainya diriku, Rasti menundukkan kepalanya diatas meja. Kupanggil dirinya, dia mengangkat kepalanya. Sedihnya diri ini melihat sahabat yang kukasihi malah berkaca-kaca. Sejuta pertanyaan mulai mengerumi kepalaku ini.
            “Ada apa, Ras?”
            “baru kali ini aku rasakan sakit yang bertubi-tubi datang padaku. Tidakkah kau tau? Aku lebih baik tidak menerima kehadiranmu jika akhirnya begini. Apa kau puas sekarang?”
            “aku puas apa, Ras? Aku tak mengerti apa maksudmu.”
            “nyatanya, Nicky itu masih mencintaimu. Jangan berpura-puralah, kau juga masih mencintainya. Apa ini yang dibilang sahabat? Mengapa kau mengambil orang yang kucintai? kau dekat dengan keluargaku, kau juga dekat dengan pacarku, kau mau ambil semuanya ya? Itu yang kau inginkan kan? Kenapa kau pulang? Kau bilang ingin pergi belajar di negeri orang. Kau bilang sulit untuk kembali. Sudah lama aku menyimpan perasaan padanya sebelum kau. Setelah kalian putus, akhirnya dia sadar siapa yang lebih mencintainya. Dia tahu kehadiranku. Aku lega dengan itu semua. Tidakkah kau mengerti?”
            “apa maksud semua ini? Kau sudah lama mencintainya?”
            “iya, Nan. Iya”, dia mulai menangis.
Aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Aku hanya terbelalak. Tuhan, mengapa aku sebodoh ini? Mengapa aku tak pernah tahu perasaan sahabatku sendiri? Ini sakit, sangat-sangat sakit.
            “maafkan aku, Ras. Aku tak tahu. Maafkan aku yang mengacaukan perasaanmu sejak dulu.”
            “sudahlah, Nan. Maafmu tak berarti apapun bagiku saat ini. Awalnya mungkin aku bisa mengerti tapi ketika kulihat dirimu hari ini, hal itu berubah. Lebih baik kau pulang, tinggalkan aku sendiri.”
Kini aku mulai mengerti hidup. Tak semuanya indah saat kau yakin itu akan indah. Bahkan siapapun bisa menyakiti dan menyembunyikan semuanya dari dirimu. Tak terlepas dari siapapun, termasuk orang yang paling dikasihi. Tanpa bicara apapun, aku langsung mengangguk, mengiyakan permintaannya. Walaupun aku juga merasakan apa yang dirasakannya. Namun, aku hanya bisa—terdiam.
            Kupinta pak Ujang, supir mamaku, untuk menjemputku di cafe Paris. Dimobil, tak henti-hentinya aku terdiam dan memikirkan Rasti. Sepulang dari bertemu Rasti. Segera kuhubungi Nicky. Kutanyakan semua yang membebani benak ini. Setelah mendengar semua jawabannya, aku kembali merasakan kecewa yang kesekian kalinya. Tanpa kusadari, air mata ini mengalir. Mama yang ternyata mendengar obrolanku mendekatiku dan mencoba menasehatiku. Dia bilang sebaiknya kami bicarakan baik-baik masalah ini. Karna aku sudah terlalu lelah memikirkannya, kuiyakan saja apa yang dibicarakan mama. Aku izin ingin keatas menuju kamarku dan segera beristirahat.
            Keesokan harinya, aku tak berniat melakukan apapun. Ini masih terlalu pagi, tapi tak kudapati mama. Pak ujang bilang mama pergi bersama rekan-rekan kerjanya. Dan dia berpesan bahwa dia akan pulang larut malam. Sebenarnya aku tak terlalu memikirkannya. Aku masih tertuju pada dua orang teman lamaku—Rasti dan Nicky. Aku duduk ditepi kolam sambil memainkan gemercik air yang sedang memenuhi kolam. Pak Ujang yang dari tadi membersihkan kolam dan melihatku hanya terdiam mulai berbicara padaku.
            “Nanda lagi sedih ya?”
Mendengar suaranya, lamunanku pergi menjauh.
            “hemm.. ga kok, pak. Cuma ga mau banyak ngomong aja.”
            “ya terserah Nanda mau bilang apa. Bapak ini sudah lama kenal Nanda sejak Nanda masih bayi, saat ibu ga ada dirumah, pasti bi Minah sama Bapak yang jagaain Nanda. Maaf ya kalo bapak lancang, Nanda mikirin temen baik Nanda itu kan?”
            “iya pak. Ga apa-apa kok pak. Bapak sudah Nanda anggep kaya papa Nanda sendiri. Hmm.. iya pak. Rasanya Nanda sia-sia liburan ke Bandung. Seharusnya Nanda ga perlu repot-repot liburan disini. Toh diluar negeri banyak tempat yang asik.”
            “jangan ngomong kaya gitu atuh Nan. Bibi sama bapak seneng kalo bisa liat nanda. Soalnya rumah ini sepi, apalagi sejak ga ada kak Syifa.”
            ‘iya yah pak. Biasanya, dulu nanda sama kak Syifa suka main kejer-kejeran sampe kita berdua duduk sebelahan di tepi kolam karna sama-sama letih lari-lari haha.. tapi sekarang, bukannya nanda dapet pengganti kak Syifa eh malah terbebani sama temen sendiri.”
Mendengar ucapanku itu pula, pak Ujang berhenti membersihkan kolam dan mulai mendekatiku. Dia juga duduk di tepi kolam tak jauh dariku.
            “Nanda, setau bapak nih yah, setiap orang itu ga bisa disamain. Terus juga, setiap orang itu ga bisa digantiin. Mau sebaik dan sebangga apapun orang itu ya tetep beda. Nanda sama kak Syifa itu beda, perbedaan itu yang buat bibi sama bapak ga pernah lelah ngurus kalian.”
            “coba aja mama, papa, Rasti, dan Nicky mikirnya sama kaya bapak. Pasti hidup Nanda ga sesedih ini kali ya?!”
            “ga ada yang perlu dipertanyain Nan. Ga ada yang perlu disesali. Awalnya bapak sama bibi juga sedih waktu tahu Nanda mau keluar negeri. Bukannya di sini banyak ya universitas bagus, tapi Nanda malah keluar. Tapi sedihnya bibi sama bapak ga lama, karna kita tahu kalo pilihan Nanda akan jadi yang terbaik buat Nanda. Buktinya Nanda kuliahnya jadi mahasiswi pinter kan.” Orang tua ini tersenyum melihatku.
            “pak, makasih ya udah ngangenin Nanda. Nanda juga kangen kalian, sekarang Nanda tahu kalo sebenernya yang Nanda kangenin itu bukan harus mereka. Tapi kalian, kalian dirumah ini, kalian yang tempat bersandar Nanda. Mama, bibi, sama bapak. Sekarang Nanda juga tahu kalo sebenernya Nanda juga kangen kak Syifa. Kaya kata bapak barusan, ga ada yang bisa gantiin kak Syifa. Nanda kangen kakak, Nanda pengen liat kakak.”
            “iya Nan, syukurlah Nanda ngerti.”
            “pak, Nanda siap-siap dulu ya. Pak Ujang hari ini temenin Nanda ya.”
            “emang kita mau kemana, Nan?” pak Ujang mulai keheranan.
            “pak Ujang jangan banyak tanya deh.” Aku tersenyum seraya bergegas berdiri menuju kamarku.
            Tak lama, aku keluar dengan tampilan simple seperti biasanya. Memakai kaus panjang, jeans, tas yang sering kubawa, flat shoes, dan rambut dikuncir. Aku panggil pak Ujang dan kami sesegera mungkin pergi. Tak lupa aku pamitan dengan bi Minah yang keheranan melihat aku yang dari tadi senyum-senyum sendiri. Aku bilang pada pak Ujang untuk ke toko bunga terlebih dahulu. Dia terus bertanya-tanya, akan ada apakah hari ini. Tapi setelah dia tahu aku membeli bunga yang indah dan harum, dia tahu aku menemui orang yang sebenarnya aku rindukan. Sekali lagi, dia tersenyum padaku dan dia tahu harus kemana kami pergi.
            Sesampainya kami di tempat pemakaman umum...
            wahh.. makam kak Syifa bersih ya pak?”
            “iya, Nan. Ibu kan sering kesini.”
            “oh...”
            “dua hari yang lalu tepat terakhir ibu kesini.”
           
            “kak, baik-baik ya disana. Nanda bakalan jadi lebih baik kok. Malahan Nanda udah janji sama Allah.” Air mata ini mulai menetes.
Kuletakkan bunga yang kubeli diatas makamnya. Sejuta rindu dan harapan selalu kubisik pada Tuhan agar hidupku dan hidup keluargaku selalu bahagia.
*********
Hari ini tepat delapan belas hari aku disini. Waktunya untukku memulai. Masuk mobil. Menuju cafe. Memesan. Dan menunggu dua orang yang selalu merumitkan hidupnya sendiri.
Rasti datang.
            ”mengapa menyuruhku datang?” tanya Rasti.
            “Cuma ingin menyudahi sesuatu.”
            “apa?”
Terlihat Nicky datang dari kejauhan.
            “mengapa tak bilang kalo ada dia disini?” Rasti tak henti bertanya.
            “karna kau tak tanya.” Jawabku.
            “aku mau pulang.” pintanya.
            “kau pulang dan kau menyesal. Atau kau lebih dari sekedar penyecut(?) duduklah!”
Dia hanya terdiam dan duduk kembali. Aku memulai pembicaraanku.
            “maaf sebelumnya atas undanganku yang mendadak ini. Jika hubungan kalian jadi begini karna aku, aku minta maaf...”
            “aku sudah lelah dengar kata maaf.” Rasti memotong.
            “kau harus bangga dengar kata maaf ini. Karna tak ada yang minta maaf saat hubungan keluargaku berantakan. Aku tak bisa salahkan siapapun termasuk diriku karna aku tlah lelah. Jika kalian tak bisa besama lagi. Yasudah. Aku pun tak bisa berbuat apa-apa, kecuali kalian mau membuka hati dan berharap Tuhan berikan yang terbaik. Aku juga tak mau membebani siapapun. Ras, aku sangat menyayangimu sebagai sahabat kecilku yang selalu mengerti aku. Tapi mungkin sekarang tak lagi, tapi kau tetap kusayangi. Dan Nicky, aku tak suka lagi padamu, biarpun perasaan ini masih ada, itu tak sebesar dulu dan itu juga hanya bayang-bayang kecil. Jangan kau anggap itu terlalu serius. Semoga kita semua bisa lebih bahagia setelah hari ini.”
Rasti langsung memelukku. Tak lama, ponselku berdering. Mama memintaku pulang.
Aku kembali memeluk Rasti yang bergelinang air mata itu. Setelah itu, aku angkat jemari ini seraya mengajak Nicky bersalaman.
“mengapa seperti ingin bepisah, Nan? Liburanmu kan masih panjang.”
“kita tak berpisah, Ras. Cuma, hari ini rasanya aku ingin melampiaskan semuanya.”
“terima kasih untuk hari ini, Nan” ucap Nicky.
“ya, aku sayang kalian. Aku harus pulang. Sampai jumpa lagi.” Aku cuma tersenyum.
Keesokan harinya...
Aku Cuma ingin menemani mama hari ini. Mama bertanya mengapa aku menolak ajakan Rasti hari ini. Aku terseyum sambil menyodorkan sebuah tiket pesawat dengan jadwal penerbangan besok pagi.
“kapan kamu memesan ini, nak?”
“oh iya, Nanda lupa bilang. Nanda sudah memesan tiket pulang-pergi, ma. Hari ini biarkan Nanda bersama-sama mama. Besok pagi antar Nanda ya, ma. Jangan beritahu Rasti dan Nicky kalo besok Nanda pulang. Setelah Nanda berangkat baru mama boleh memberitahu mereka. Janji?”
“Nanda...”
“Janji ya, ma? Banyak tugas kuliah yang harus kukejar demi masa depan.”
“iya, nak. Mama janji.” Senyuman indah itu terlukis diwajahnya.
Hari ini terasa begitu cepat berlalu. Besok pagi-pagi benar aku harus segera di bandara. Kumatikan ponselku. Aku tertidur pulas.
**********
Hari ini aku pulang, hari kedua puluh. See you, Bandung. Good bye, memories. Kupeluk erat mama. Kucium lembut tangannya. Dia menangis. Mungkin tak pernah menyangka secepat ini. Perjalanan gila ini membuatku harus beristirahat setelah sampai dirumah sana. Dua puluh hari dengan suka duka. Cinta(?) Apa itu? Nantilah! Bukankah Tuhan tlah siap dengan seluruh takdir-Nya untuk ciptaan-Nya. Jangan takut! Jangan bersedih! Jangan pula khawatir! Karna Allah selalu bersamamu.
 

                Cerita singkat ini menjadi  perjalanan empat tahun masa sekolahku, tak perlu dijelaskan. Hidup itu maju dan terus berputar. Jadi lebih baik itu impian, tapi berusahanya itu yang jadi tujuan. Tak semua orang bisa melakukannya. Dia yang tak kenal lelah yang sanggup. Berdirihlah! Kokohlah! Tegarlah! Dan larilah! Sampai kau lelah dan berhenti untuk istirahat, lalu teruslah berlari! Terus dan teruslah, sampai Allah bilang “kau harus berhenti dan pulang”. Papa pernah bilang-hidup sederhana itu lebih baik dan patut dibanggakan daripada hidup dengan segalanya namun tetap merasa kurang. Jangan pernah takut pada siapapun, takutlah pada Allah! Mama juga pernah menyampaikan-jangan terlalu cemaskan nasib masa depanmu. Cukup lakukan yang terbaik. Allah tahu, kau tak selemah itu untuk dapatkan yang kau inginkan. Jika memang tidak, mungkin rencana-Nya jauh lebih baik!