Kamis, 30 April 2015

Cerita KINAN

Assalamu'alaikum para pembaca yang setiaaa ;;)

Kali ini gue mau berbagi kisah tentang Kinan. Entah apalah ini, maknanya muup banget ya ga gue tulis bener-bener alias tersirat. Kalo ngerti alhamdulillah, kalo engga yaudah deh wassalam*loh. Engga kok, gue candaan doang, serius atuh.. udah pada ga sabarrr kan?! langsung aja yok capcusss......



            Dia, seorang gadis berparas cantik yang ia simpan dibalik kerudung indah itu. Entah mengapa, asik sekali berteman dengan gadis ini. Dia bukan anak orang konglomerat, tapi dia apa adanya. “bilang iya kalo ada, bilang tidak jika memang tak ada”, kata yang membuat aku yakin untuk keteguhannya. Dia sangat baik, namun aku tahu, disetiap kebaikan seseorang terselip ketidakinginan orang lain terhadapnya.
            “mengapa akhir-akhir ini cemberut sih, Ki?”
            “ga apa Nad, aku cuma lelah.”
            Aku tahu itu bukan dirinya, ingin kuusik pikirannya. Namun apa daya, dia lebih kokoh dari tembok yang tak terpikirkan olehku sebelumnya.
            “Ki, aku tahu kamu berbeda. Cerita dong”
            “makasih Nad, udah tahu aku. Tapi aku juga ga tahu apa yang kurasakan sekarang. Aku berpikir, lebih baik aku tak punya teman dari pada harus seperti ini......”
           
            Setelah pembicaraan kami jauh melangkah, kusadari dia bukan orang biasa yang dengan kepasrahannya. Dia mampu setegar karang meski ombak menghadang dan menerjang. Kinan, gadis yang kuat. Tapi, Kinan, mengapa kau selalu merasa tak enak hati(?) sesakit itukah dirimu(?) atau kau tak tahu harus berbuat apa(?) hal sepeleh saja kau anggap musibah(?)
Bukan.
            “Kau benar-benar bahagia jika tidak punya teman?”
            “apa maksudmu?”
            “kau bilang, lebih baik kau tak punya teman..”
            “mmm... aku..akuu.. bukan begitu maksudku.”
            Sambil menatap langit jingga yang sama diatap rumahku, aku memberi dia sebuah alasan untuk tetap gigih dalam menerka hidup yang bergulir maju ini.
            “Ki, kalau aku pergi, apakah kau akan sedih? Atau kau malah bahagia karna kepergianku?”
            “kau mau kemana?”
            “kita punya impian masing-masing. Dan dengan berbagai macam cara kita wujudkan impian itu. Hidup kita ini seperti roda sepeda yang dikayuh. Tergantung usahamu, jika kau tekun, maka kau akan sampai pada tujuanmu, jika kau malas, impian itu akan jauh sekali di pelosok matamu. Tak masalah entah itu diatas atau dibawah. Roda memang begitu, setiap kayuhanmu pasti membawamu pada masa sulit dan bahagia. Tapi ketahuilah, jangan pernah berhenti untuk mengayuh sepeda itu, bahkan ketika kau merasa lelah. Beristirahatlah sejenak karna mungkin kau butuh energi lebih untuk mengayuh sepeda itu lebih kencang lagi....”
            “akuu..akuu akan sangat merindukanmu. Aku tak mau tak punya teman sepertimu. Semua orang pasti inginkan itu.”
            “oleh karna itu, jangan merasa sedih karna seseorang. Kau tahu, rasa cinta dan benci itu tipis sekali bedanya. Disaat kau membenci seseorang, maka disaat itu juga rasa sayang bisa saja muncul.”
            Aku melihat kearahnya...
“iya Nad, aku tahu itu”, dia menundukkan kepalanya. Sedang aku kembali menatap langit jingga yang tak kunjung usai sambil melukis senyum diwajah.
“kau pasti juga tahu kan sebuah kata-kata indah tertulis di Al-Qur’an “jangan besedih, sesungguhnya Allah selalu bersamamu”, apa yang kau masih ragukan? Ayoo bangkitlah! Mana Kinan yang dulu?!”
Dia melihat kearahku. Senyum diwajah mungil itu telihat diantara bayang-bayang kilau jingga. ‘Aku ingin sepertimu, Ki.’ Bisikku dalam asa. ‘Aku ingin sekokoh, setegar, sekuat, seikhlas, dan seindah dirimu.’ Semoga kelak, kau mendapat berita bahagia dari Tuhan karna kegigihanmu itu. Semoga kau selalu seperti ini, selalu dan selalu saja menjadi Kinan yang mampu menopang meski badai datang.
*
            Aku dengan hati teguh harus tetap pada impianku. Dengan berat hati, aku harus mengejarnya walaupun harus tepisah dan pergi jauh dari Kinan. Kekagumanku padanya membuatku meminta pada Tuhan agar aku diberi teman seperti Kinan (lagi). Hitungan hari tak dapat aku hindari.
Kinan, terima kasih untuk semangat itu, terima kasih untuk keteguhan hati itu, terima kasih tlah menjadi gadis yang baik, teman yang baik meski orang berkata tidak padamu. Kau tahu persis, meski aku tersenyum lebar padamu, tetap saja kau bisa terka bila hati ini sedang pilu. Aku sangat sangat menjadi bangga, karna saat itu aku bisa membangkitkanmu dari kedukaanmu itu. Itu adalah kata-katamu padaku, tapi bolehkah itu kujadikan busur untukmu juga agar kau bisa sebangkit yang kau lakukan padaku, Ki(?) tanpa tahu jawaban yang pasti, aku yakin Tuhan pasti membolehkannya karna untuk itulah aku disini sebagai temanmu.
            Saat aku bersedih dikejauhan, dia datang dengan berjuta cara yang membuatku terpaku dan berkali-kali aku kagum padanya. Ki, tak akan ada sudahnya temanmu ini menyayangimu.
            Surat buat Nada....


                                                               Palembang, 19 Desember 2010
Assalamu’alaikum wr.wb.
Salam sayang buat Nada,
            Nad, aku berharap sampai kapanpun kamu akan selalu dalam keadaan yang baik dan selalu dalam lindungan-Nya. Terima kasih sudah menjadi teman yang baik. Tetaplah begitu, Nad. Aku ingin sekali membisikkan hal ini pada hatimu, surat inilah sebagai bisikan dari Yang Maha Kuasa lewat temanmu ini. Nad, setiap manusia itu diciptakan pasti ada baik dan buruknya. Janganlah kau bersedih karna kau tahu kekuranganmu, tapi syukuri atas kelebihan dirimu yang tak satupun orang miliki sepertimu. Jika ada satu teman, syukuri. Jika ada lebih, maka kau harus lebih bersyukur lagi. Kau pasti mengerti maksudku, Nad.
            Suatu ketika, aku melakukan kesalahan yang menyakiti hati seseorang. Orang itu bilang padaku, “makanlah makananmu, bukan temanmu”, “selapar-laparnya aku, aku tak suka makan teman sendiri”, “semua yang diawali dengan kebohongan akan berakhir dengan penyesalan”, “orang yang banyak drama, pasti kena karma”, “memaafkan itu mudah, mempercayai orangnya lagi itu yang susah”. Kau tahu, bahkan membaca kalimat-kalimat tadi secara berulang rasanya keluh di lidahku. Aku menyesal, Nad. Aku sudah minta maaf padanya. Mungkin dia sudah memaafkanku, mungkin juga belum. Entahlah, dia masih percaya padaku atau sudah tak menganggapku. Aku tak bisa berkata banyak padanya, Nad. Untuk mengetik sebuah pesan atau mengulang membaca pesannya saja aku tak sanggup. Aku takut, Nad. Pernah kucoba sekali, tapi responnya negatif. Aku masih tetap berpikir “mungkin dia sedang unmood”. Sampai begitunya aku berpikir tentangnya agaraku tak jatuh, agar aku tak kecil hati, agar aku merasa aku tidak terabaikan. Kau tahu mengapa aku begini?!
Ini tentang cerita yang kusaksikan sendiri. Tentang dua orang sahabat yang bertengkar karna hal sepeleh, karna salah satu dari mereka tak mau membuka hati, karna salah satu dari mereka merasa tak mau disalahkan, padahal mereka sama-sama menyayangi. Beruntunglah Allah menyayangi mereka, lewat sebuah skenario yang indah yang Allah cipatakan, maka dihari itu adu tangis kusapa, peluk hangat kuraih, hati yang suci itu kulihat di sorot mata mereka. Mereka sama-sama mengadu kasih, mereka sama-sama merangkul erat, mereka sama-sama takut kehilangan, kata-kata mereka yang secara bergantian bersamaan dengan isak tangis itu melampiaskan kasih sayang yang dulunya tak pernah terucap, kasih sayang yang begitu besarnya hingga mereka berdua baru menyadarinya. Sembari kusaksikan itu, aku berdoa pada Allah, terima kasih untuk hari ini. Terima kasih yang tak terhingga untuk sebuah cerita yang sebelumnya tak pernah terbesit di benakku ini. Walaupun sudah kusaksikan sendiri, namun aku tak pernah tahu akhir dari ceritaku dengan orang itu. Sampai detik ini, lagi lagi aku berharap Allah kabulkan doaku dan semoga ceritaku akan berakhir bahagia hingga tak kutemui setitik keraguan.
            Seseorang itu diciptakan sebagai anugrah dan cobaan dari Tuhan. Disaat kau sendiri, merasa gunda dan resah, mungkin orang itu yang akan berada disampingmu. Itulah anugrah. Cobaannya, bagaimana caramu menjaga kasih sayangmu padanya. Entah itu segelintir kesalahan yang orang itu perbuat padamu. Jangan takut, Nad. Dia juga manusia biasa, dia bisa saja melakukan kesalahan, entah itu besar ataupun kecil. Dia butuh pengarahan, jika kalian saling beranggapan “teman” maka, coba saling memaafkan, saling merajut kasih kembali, tidak ada yang salah, Nad. Hidup itu tentang belajar. Belajar menjadi lebih baik. Aku tahu memaafkan itu mudah, dan mempercayai orangnya lagi itu yang susah. Tapi apa salahnya mencoba mengulangnya lagi dari awal jika dia memang benar-benar berubah(?)
            Aku punya pertanyaan yang harus kau pikirkan setelah tahu jawabannya. Orang yang munafik itu bisa disebut orang yang pura-pura baik didepan orang yang tidak disukainya kan? Lalu bagaimana jika dia benar-benar membenci orang itu, tapi dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak benci terhadap orang itu. Menurutmu apa yang harus dia lakukan? Sebagian orang berpikir, “jika aku mencoba berbuat baik padanya, mungkin kebencianku akan hilang”. Aku mungkin tak bisa menyebut dalil-dalil Allah yang tersurat dan tersirat di dalam Al-Qur’an. Tapi aku yakin, kau pernah tahu dan pernah membaca hal-hal ini yang telah Allah susun rapi dalam kitab-Nya.
            Nad, semangatlah! Kau perlu berinteraksi dengan orang lain, kau perlu bersosialisasi dengan orang lain agar kau tak sendiri, agar ada yang menyapamu, peduli padamu, ingin tahu lebih akan dirimu. Gapailah apa yang selama ini kau impikan. Semoga yang kusampaikan ini bisa melunturkan gundahnya hatimu.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
                                                                      Yang selalu menyayangimu,
                                                                              Kinan A. Claristal

**

            Luluhnya hati ini oleh secercah kata-kata indah yang Kinan untai. Ki, pasti hidupmu lebih sulit dariku hingga aku tahu kau bisa sekuat ini. Aku juga berdoa pada Allah agar ceritamu berujung indah dengan orang itu. Kinan Arum Claristal. Kinan yang tak ada lelahnya memanjatkan doa untuk sebuah kebaikan hidupnya. Kinan, kini aku tahu jawaban dari pertanyaan dalam diri ini. Dia ingin menjadi manusia seutuhnya, manusia yang memang benar-benar bersyukur pada kenikmatan dari Allah. Alasan mengapa dia seperti ini tlah kutemukan.
Alasannya sangat sederhana, “DIA TAKUT AKAN TUHAN”.
            Ya Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang Maha Segala-Galanya, Yang Menjadikan sesuatu yang tidak mungkin itu menjadi mungkin, Yang Maha Mengatur Segala Kehidupan, terima kasih untuk anugrah ini. Semoga kami bisa mencapai nirwanamu dengan jalan yang indah. Melangkah dengan pasti, menepi untuk mengamati, dan berlari saat itu tlah pasti. Berikan selalu petunjuk untuk hamba-Mu yang lemah ini. Aamiin.

udaahhh.... kisah Kinannya udah berakhir, Kinannya mau bobo' *eh ._.v ok ok, gue serius. semoga yang gue share ini bermanfaat untuk kita semua-semuaaaa, gue ingetin lagi yang ke-*seratus ato seribu ato lebih ya(?) bodo ah* pokoknya jadilah manusia yang baik, yang mau belajar jadi lebih baik lagi dan ga lupa berdoa sama Allah swt. semoga kita selalu dalam lindungan dan selalu diberi cahaya keimanan oleh Nya. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar