Assalamu'alaikum para pembaca yang setiaaa ;;)
Kali ini gue mau berbagi kisah tentang Kinan. Entah apalah ini, maknanya muup banget ya ga gue tulis bener-bener alias tersirat. Kalo ngerti alhamdulillah, kalo engga yaudah deh wassalam*loh. Engga kok, gue candaan doang, serius atuh.. udah pada ga sabarrr kan?! langsung aja yok capcusss......
Dia,
seorang gadis berparas cantik yang ia simpan dibalik kerudung indah itu. Entah
mengapa, asik sekali berteman dengan gadis ini. Dia bukan anak orang
konglomerat, tapi dia apa adanya. “bilang iya kalo ada, bilang tidak jika memang
tak ada”, kata yang membuat aku yakin untuk keteguhannya. Dia sangat baik,
namun aku tahu, disetiap kebaikan seseorang terselip ketidakinginan orang lain
terhadapnya.
“mengapa
akhir-akhir ini cemberut sih, Ki?”
“ga
apa Nad, aku cuma lelah.”
Aku
tahu itu bukan dirinya, ingin kuusik pikirannya. Namun apa daya, dia lebih
kokoh dari tembok yang tak terpikirkan olehku sebelumnya.
“Ki,
aku tahu kamu berbeda. Cerita dong”
“makasih
Nad, udah tahu aku. Tapi aku juga ga tahu apa yang kurasakan sekarang. Aku
berpikir, lebih baik aku tak punya teman dari pada harus seperti ini......”
Setelah
pembicaraan kami jauh melangkah, kusadari dia bukan orang biasa yang dengan
kepasrahannya. Dia mampu setegar karang meski ombak menghadang dan menerjang.
Kinan, gadis yang kuat. Tapi, Kinan, mengapa kau selalu merasa tak enak hati(?)
sesakit itukah dirimu(?) atau kau tak tahu harus berbuat apa(?) hal sepeleh
saja kau anggap musibah(?)
Bukan.
“Kau
benar-benar bahagia jika tidak punya teman?”
“apa
maksudmu?”
“kau
bilang, lebih baik kau tak punya teman..”
“mmm...
aku..akuu.. bukan begitu maksudku.”
Sambil
menatap langit jingga yang sama diatap rumahku, aku memberi dia sebuah alasan
untuk tetap gigih dalam menerka hidup yang bergulir maju ini.
“Ki,
kalau aku pergi, apakah kau akan sedih? Atau kau malah bahagia karna
kepergianku?”
“kau
mau kemana?”
“kita
punya impian masing-masing. Dan dengan berbagai macam cara kita wujudkan impian
itu. Hidup kita ini seperti roda sepeda yang dikayuh. Tergantung usahamu, jika
kau tekun, maka kau akan sampai pada tujuanmu, jika kau malas, impian itu akan
jauh sekali di pelosok matamu. Tak masalah entah itu diatas atau dibawah. Roda
memang begitu, setiap kayuhanmu pasti membawamu pada masa sulit dan bahagia.
Tapi ketahuilah, jangan pernah berhenti untuk mengayuh sepeda itu,
bahkan ketika kau merasa lelah. Beristirahatlah sejenak karna mungkin kau butuh
energi lebih untuk mengayuh sepeda itu lebih kencang lagi....”
“akuu..akuu
akan sangat merindukanmu. Aku tak mau tak punya teman sepertimu. Semua orang
pasti inginkan itu.”
“oleh
karna itu, jangan merasa sedih karna seseorang. Kau tahu, rasa cinta dan
benci itu tipis sekali bedanya. Disaat kau membenci seseorang, maka disaat itu
juga rasa sayang bisa saja muncul.”
Aku
melihat kearahnya...
“iya Nad, aku tahu
itu”, dia menundukkan kepalanya. Sedang aku kembali menatap langit jingga yang
tak kunjung usai sambil melukis senyum diwajah.
“kau pasti juga tahu
kan sebuah kata-kata indah tertulis di Al-Qur’an “jangan besedih, sesungguhnya
Allah selalu bersamamu”, apa yang kau masih ragukan? Ayoo bangkitlah! Mana
Kinan yang dulu?!”
Dia melihat kearahku.
Senyum diwajah mungil itu telihat diantara bayang-bayang kilau jingga. ‘Aku
ingin sepertimu, Ki.’ Bisikku dalam asa. ‘Aku ingin sekokoh, setegar, sekuat,
seikhlas, dan seindah dirimu.’ Semoga kelak, kau mendapat berita bahagia dari
Tuhan karna kegigihanmu itu. Semoga kau selalu seperti ini, selalu dan selalu
saja menjadi Kinan yang mampu menopang meski badai datang.
*
Aku
dengan hati teguh harus tetap pada impianku. Dengan berat hati, aku harus
mengejarnya walaupun harus tepisah dan pergi jauh dari Kinan. Kekagumanku
padanya membuatku meminta pada Tuhan agar aku diberi teman seperti Kinan
(lagi). Hitungan hari tak dapat aku hindari.
Kinan, terima kasih
untuk semangat itu, terima kasih untuk keteguhan hati itu, terima kasih tlah
menjadi gadis yang baik, teman yang baik meski orang berkata tidak padamu. Kau
tahu persis, meski aku tersenyum lebar padamu, tetap saja kau bisa terka bila
hati ini sedang pilu. Aku sangat sangat menjadi bangga, karna saat itu aku bisa
membangkitkanmu dari kedukaanmu itu. Itu adalah kata-katamu padaku, tapi
bolehkah itu kujadikan busur untukmu juga agar kau bisa sebangkit yang kau
lakukan padaku, Ki(?) tanpa tahu jawaban yang pasti, aku yakin Tuhan pasti
membolehkannya karna untuk itulah aku disini sebagai temanmu.
Saat
aku bersedih dikejauhan, dia datang dengan berjuta cara yang membuatku terpaku
dan berkali-kali aku kagum padanya. Ki, tak akan ada sudahnya temanmu ini
menyayangimu.
Surat
buat Nada....
Palembang,
19 Desember 2010
Assalamu’alaikum wr.wb.
Salam sayang buat Nada,
Nad,
aku berharap sampai kapanpun kamu akan selalu dalam keadaan yang baik dan
selalu dalam lindungan-Nya. Terima kasih sudah menjadi teman yang baik. Tetaplah
begitu, Nad. Aku ingin sekali membisikkan hal ini pada hatimu, surat inilah
sebagai bisikan dari Yang Maha Kuasa lewat temanmu ini. Nad, setiap manusia itu
diciptakan pasti ada baik dan buruknya. Janganlah kau bersedih karna kau tahu kekuranganmu,
tapi syukuri atas kelebihan dirimu yang tak satupun orang miliki sepertimu. Jika
ada satu teman, syukuri. Jika ada lebih, maka kau harus lebih bersyukur lagi. Kau
pasti mengerti maksudku, Nad.
Suatu
ketika, aku melakukan kesalahan yang menyakiti hati seseorang. Orang itu bilang
padaku, “makanlah makananmu, bukan temanmu”, “selapar-laparnya aku, aku tak
suka makan teman sendiri”, “semua yang diawali dengan kebohongan akan berakhir
dengan penyesalan”, “orang yang banyak drama, pasti kena karma”, “memaafkan itu
mudah, mempercayai orangnya lagi itu yang susah”. Kau tahu, bahkan membaca
kalimat-kalimat tadi secara berulang rasanya keluh di lidahku. Aku menyesal,
Nad. Aku sudah minta maaf padanya. Mungkin dia sudah memaafkanku, mungkin juga
belum. Entahlah, dia masih percaya padaku atau sudah tak menganggapku. Aku tak
bisa berkata banyak padanya, Nad. Untuk mengetik sebuah pesan atau mengulang
membaca pesannya saja aku tak sanggup. Aku takut, Nad. Pernah kucoba sekali,
tapi responnya negatif. Aku masih tetap berpikir “mungkin dia sedang unmood”. Sampai
begitunya aku berpikir tentangnya agaraku tak jatuh, agar aku tak kecil hati,
agar aku merasa aku tidak terabaikan. Kau tahu mengapa aku begini?!
Ini tentang cerita yang
kusaksikan sendiri. Tentang dua orang sahabat yang bertengkar karna hal
sepeleh, karna salah satu dari mereka tak mau membuka hati, karna salah satu
dari mereka merasa tak mau disalahkan, padahal mereka sama-sama menyayangi. Beruntunglah
Allah menyayangi mereka, lewat sebuah skenario yang indah yang Allah cipatakan,
maka dihari itu adu tangis kusapa, peluk hangat kuraih, hati yang suci itu
kulihat di sorot mata mereka. Mereka sama-sama mengadu kasih, mereka sama-sama
merangkul erat, mereka sama-sama takut kehilangan, kata-kata mereka yang secara
bergantian bersamaan dengan isak tangis itu melampiaskan kasih sayang yang
dulunya tak pernah terucap, kasih sayang yang begitu besarnya hingga mereka
berdua baru menyadarinya. Sembari kusaksikan itu, aku berdoa pada Allah, terima
kasih untuk hari ini. Terima kasih yang tak terhingga untuk sebuah cerita yang
sebelumnya tak pernah terbesit di benakku ini. Walaupun sudah kusaksikan
sendiri, namun aku tak pernah tahu akhir dari ceritaku dengan orang itu. Sampai
detik ini, lagi lagi aku berharap Allah kabulkan doaku dan semoga ceritaku akan
berakhir bahagia hingga tak kutemui setitik keraguan.
Seseorang
itu diciptakan sebagai anugrah dan cobaan dari Tuhan. Disaat kau sendiri,
merasa gunda dan resah, mungkin orang itu yang akan berada disampingmu. Itulah anugrah.
Cobaannya, bagaimana caramu menjaga kasih sayangmu padanya. Entah itu
segelintir kesalahan yang orang itu perbuat padamu. Jangan takut, Nad. Dia juga
manusia biasa, dia bisa saja melakukan kesalahan, entah itu besar ataupun
kecil. Dia butuh pengarahan, jika kalian saling beranggapan “teman” maka, coba
saling memaafkan, saling merajut kasih kembali, tidak ada yang salah, Nad. Hidup
itu tentang belajar. Belajar menjadi lebih baik. Aku tahu memaafkan itu mudah,
dan mempercayai orangnya lagi itu yang susah. Tapi apa salahnya mencoba
mengulangnya lagi dari awal jika dia memang benar-benar berubah(?)
Aku
punya pertanyaan yang harus kau pikirkan setelah tahu jawabannya. Orang yang
munafik itu bisa disebut orang yang pura-pura baik didepan orang yang tidak
disukainya kan? Lalu bagaimana jika dia benar-benar membenci orang itu, tapi
dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak benci terhadap orang itu. Menurutmu apa
yang harus dia lakukan? Sebagian orang berpikir, “jika aku mencoba berbuat baik
padanya, mungkin kebencianku akan hilang”. Aku mungkin tak bisa menyebut
dalil-dalil Allah yang tersurat dan tersirat di dalam Al-Qur’an. Tapi aku
yakin, kau pernah tahu dan pernah membaca hal-hal ini yang telah Allah susun
rapi dalam kitab-Nya.
Nad,
semangatlah! Kau perlu berinteraksi dengan orang lain, kau perlu bersosialisasi
dengan orang lain agar kau tak sendiri, agar ada yang menyapamu, peduli padamu,
ingin tahu lebih akan dirimu. Gapailah apa yang selama ini kau impikan. Semoga yang
kusampaikan ini bisa melunturkan gundahnya hatimu.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Yang
selalu menyayangimu,
Kinan A. Claristal
**
Luluhnya
hati ini oleh secercah kata-kata indah yang Kinan untai. Ki, pasti hidupmu
lebih sulit dariku hingga aku tahu kau bisa sekuat ini. Aku juga berdoa pada
Allah agar ceritamu berujung indah dengan orang itu. Kinan Arum Claristal. Kinan
yang tak ada lelahnya memanjatkan doa untuk sebuah kebaikan hidupnya. Kinan,
kini aku tahu jawaban dari pertanyaan dalam diri ini. Dia ingin menjadi manusia
seutuhnya, manusia yang memang benar-benar bersyukur pada kenikmatan dari
Allah. Alasan mengapa dia seperti ini tlah kutemukan.
Alasannya sangat sederhana, “DIA TAKUT AKAN TUHAN”.
Ya
Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang Maha Segala-Galanya, Yang
Menjadikan sesuatu yang tidak mungkin itu menjadi mungkin, Yang Maha Mengatur
Segala Kehidupan, terima kasih untuk anugrah ini. Semoga kami bisa mencapai
nirwanamu dengan jalan yang indah. Melangkah dengan pasti, menepi untuk
mengamati, dan berlari saat itu tlah pasti. Berikan selalu petunjuk untuk
hamba-Mu yang lemah ini. Aamiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar